Nusantaraterkini.co, MEDAN - Serangan panik atau panic attack menjadi isu kesehatan mental yang semakin sering dialami oleh generasi muda, terutama di kalangan Gen Z.
Generasi yang lahir di antara tahun 1997 hingga 2012 ini, diketahui menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Baca Juga : Kenali Ciri-Ciri Manipulatif Agar Tidak Menjadi Korban, Ini Penjelasan Pakar
Direktur Minauli Consulting, Irna Minauli mengatakan, salah satu faktor utama yang menyebabkan Gen Z lebih rentan terhadap panic attack adalah tekanan sosial yang intens, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
Baca Juga : Membedah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Gorontalo Perspektif Psikologi
"Gen Z tumbuh dalam era digital di mana media sosial menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Mereka kerap merasa perlu untuk terus 'hadir' secara online dan mengikuti standar tertentu, baik dari segi penampilan maupun prestasi. Tekanan ini bisa memicu kecemasan yang berkepanjangan dan pada akhirnya berujung pada serangan panik," jelasnya kepada Nusantaraterkini.co, Sabtu (5/10/2024).
Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan teknologi dan akses informasi yang terlalu cepat bisa menjadi beban bagi kesehatan mental.
"Informasi yang datang begitu cepat dan seringkali berlebihan bisa memicu rasa kewalahan, sehingga membuat anak muda merasa tak mampu mengendalikan situasi," sebutnya.
Faktor lain yang turut berperan adalah ekspektasi tinggi dari masyarakat dan keluarga, terutama dalam hal karier dan pendidikan.
"Gen Z sering kali dibesarkan dengan harapan untuk sukses secara cepat di dunia yang kompetitif. Banyak dari mereka merasa tertekan untuk selalu tampil sempurna dan mencapai prestasi maksimal, yang akhirnya menciptakan ketegangan emosional," tuturnya.
Serangan panik bisa muncul secara tiba-tiba, dengan gejala seperti jantung berdebar kencang, napas pendek, keringat berlebih, gemetar, serta perasaan tidak terkendali.
"Yang perlu dipahami adalah, serangan panik ini tidak mematikan, namun bila tidak ditangani dengan baik, bisa berakibat pada gangguan kecemasan yang lebih serius," tegasnya.
Irna menyarankan agar anak-anak muda lebih peka terhadap kesehatan mental mereka dan tidak ragu untuk mencari bantuan profesional jika mengalami tanda-tanda kecemasan atau serangan panik.
"Membangun kesadaran diri, teknik pernapasan, hingga konseling dengan psikolog adalah beberapa cara efektif untuk mengatasi masalah ini. Dukungan keluarga dan lingkungan juga sangat penting untuk membantu mereka mengelola tekanan yang dihadapi," jelasnya.
Dengan meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, diharapkan semakin banyak generasi muda yang lebih terbuka dalam membicarakan dan menangani isu panic attack, sehingga mereka bisa menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik dan sehat.
(Cw9/Nusantaraterkini.co)
