Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) yang saat ini berada dikisaran 104.880 Dolar AS pada Sabtu (14/6/2025) petang mengalami penurunan menyusul konflik militer Israel dan Iran yang memanas.
Banyak investor khawatir Bitcoin bisa jatuh lebih dalam, bahkan menembus batas psikologis 100.000 Dolar AS - meski akhirnya itu tidak terjadi.
Baca Juga : Harga Bitcoin Terjatuh 2,18% Bersandar di Level US$113.329 Per Koin Setelah Mencetak Rekor Tertinggi
Menurut analis dari CryptoQuant, Amr Taha, penurunan harga ini kemungkinan adalah efek dari aksi jual panik akibat konflik tersebut.
Baca Juga : New ATH, Harga Bitcoin Cetak Rekor Tertinggi Rp1,9 Miliar
Ia menyebut kondisi ini bisa menjadi “kapitulasi”, yaitu saat banyak investor menyerah dan menjual aset mereka, yang biasanya jadi sinyal harga akan segera pulih jika situasi pasar membaik.
“Sejarah menunjukkan, ketika aksi jual mencapai ekstrem tertentu (lebih dari 160 juta dolar dijual), itu sering menandai titik terendah jangka pendek,” kata Taha, dikutip dari media kripto CCN via RMOL.
Baca Juga : HNW: Indonesia Harus Taat Konstitusi, Dewan Perdamaian Jangan Jadi Legitimasi Penghapusan Gaza
Namun, meski ada kemungkinan Bitcoin mulai stabil, data dari transaksi on-chain menunjukkan belum ada sinyal kuat untuk pemulihan cepat. Indikator rasio beli/jual di bursa menunjukkan angka 0,96 di bawah batas ideal 1.
Baca Juga : DPR Ingatkan Pemerintah: BOP Gaza Bentukan AS Berpotensi Jadi Beban dan Alat Legitimasi Israel
Artinya, saat ini jumlah penjual masih lebih besar daripada pembeli.
Kalau tren ini terus berlanjut, harga Bitcoin bisa tetap lemah dan berisiko turun lagi, bahkan di bawah 100.000 Dolar AS dalam waktu dekat.
(zie/Nusantaraterkini.co)
