Kasus Keracunan MBG Tembus 50 Ribu, Formappi Desak DPR Bentuk Pansus Angket
Formappi desak DPR bentuk Pansus Angket usut kasus keracunan program MBG yang tembus 50 ribu korban
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus mendesak DPR RI segera mengambil langkah serius menyikapi kasus keracunan yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Lucius menilai, jumlah korban yang disebut telah menembus angka lebih dari 50 ribu orang serta meluasnya kasus ke berbagai daerah, seharusnya menjadi alarm keras bagi DPR untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG.
“Dengan tingkat kasus keracunan MBG yang sudah tembus 50 ribu lebih korban dan kasusnya juga meluas ke banyak daerah, sudah seharusnya DPR bergerak. Yang keracunan itu adalah rakyat yang diwakili oleh anggota DPR,” kata Lucius kepada Nusantaraterkini.co, Senin (14/9/2026).
Menurut dia, DPR tidak seharusnya bersikap lamban dalam merespons persoalan yang menyangkut keselamatan masyarakat. Terlebih, kasus keracunan dalam pelaksanaan program pemerintah tersebut bukan semata-mata persoalan politik, melainkan menyangkut aspek kemanusiaan.
“Bagaimana bisa DPR masih slow-slow saja merespons kasus keracunan MBG ini. Keracunan MBG bukan perkara politik. Ini soal kemanusiaan yang seharusnya menggerakkan DPR, jika mereka masih punya rasa kemanusiaan,” tegasnya.
Lucius mengingatkan, sikap pasif DPR justru dapat memberikan ruang bagi pemerintah untuk melanjutkan program MBG tanpa adanya koreksi dan evaluasi yang serius.
“Sayang sekali jika karena alasan politik, DPR mengabaikan kasus-kasus itu. Sikap diam DPR akan selalu jadi alasan pemerintah untuk meneruskan program MBG ini tanpa koreksi serius,” ujarnya.
Karena itu, Lucius mendorong DPR menggunakan kewenangan konstitusionalnya dengan membentuk Panitia Khusus (Pansus) Angket untuk mengusut sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program MBG.
Menurutnya, pembentukan Pansus Angket tidak semestinya dipersepsikan sebagai upaya untuk menjatuhkan atau menggulingkan pemerintahan. Sebaliknya, langkah tersebut diperlukan agar DPR dapat melakukan evaluasi secara lebih fokus dan komprehensif.
“Bukan untuk menargetkan penggulingan pemerintah, tetapi semata agar fokus mengevaluasi program MBG, sehingga bisa menghasilkan rekomendasi yang tepat bagi pemerintah,” pungkasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMSELJob Fair Sumsel Sediakan 2.500 Lowongan, Gubernur Minta Hapus Syarat Batas Usia
Herman Saleh Harahap·19 menit yang lalu -
SUMUTKAI Sumut Tambah Jadwal KA Datuk Blambangan Rute Tebingtinggi–Siantar, Tarif Hanya Rp5 Ribu
Rozie Winata·27 menit yang lalu -
NASIONALPemerintah Pangkas Bunga UMKM Jadi 8 Persen dan Ambil Alih Kebun Ilegal
Herman Saleh Harahap·42 menit yang lalu -
NEWSSoal Penyadapan, Golkar: Jika Terbukti Makar, Tindak Tegas
Herman Saleh Harahap·51 menit yang lalu -
-
HUKUM DAN KRIMINALJokowi Ditegur Hakim Saat Sidang Kasus Roy Suryo
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALJokowi Hadiri Sidang Soal Ijazah Ditemani Kaesang dan Kahiyang
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
SUMUTSebanyak 1.341 Kejadian Kekerasan Perempuan dan Anak di Sumut Hingga November
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
NEWSPenggerebekan Pesantren Sukoharjo, DPR Minta Penegak Hukum Lebih Profesional
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
NEWSAksi Kelompok LSP Ancaman Fatal bagi Reputasi Indonesia di Arena Global
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan