Kasus Keracunan MBG di Karo Naik Penyidikan, Labkes Sumut Temukan Bakteri pada Makanan
Kasus keracunan MBG di Karo naik ke penyidikan. Labkes Sumut menemukan bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus pada sampel makanan.
Nusantaraterkini.co, KARO — Satreskrim Polres Tanah Karo sejak kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) mencuat pada 13 Agustus 2026, langsung melakukan penyelidikan.
Belakangan diketahui penyelidikan soal MBG ada dua tipe laporan yang masuk ke kepolisian. Orang tua pada 31 Agustus 2026. Tapi jauh sebelum sekitar 40 orang tua membuat laporan, polisi telah lebih dulu membuat laporan model A.
Laporan model A dibuat berdasarkan temuan atau informasi yang ditindaklanjuti polisi. Sedangkan laporan model B berasal dari orang tua korban.
Hingga Rabu (9/9/2026), sejumlah pihak telah diperiksa polisi untuk kebutuhan pengumpulan alat bukti dan keterangan. Misalnya murid, guru, termasuk ahli gizi. Tahapan pendalaman tersebut dilakukan untuk mengungkap penyebab ratusan siswa mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan MBG dari SPPG Karo Berastagi Sempajaya yang dikelola Kartika Manunggal Jaya.
Kasi Humas Polres Tanah Karo, AKP Pedoman Maha mengatakan, penyelidikan ini sudah naik ke tingkat sidik. Di samping itu, unit Reskrim juga masih menunggu dan mendalami hasil pemeriksaan sampel makanan yang dilakukan oleh laboratorium forensik Polda Sumatera Utara.
"Kalau labfor belum ya, masih berproses," katanya, Rabu (9/9/2026).
Terkait mendeteksi paparan bakteri, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Sumut sebenarnya juga telah melakukan uji laboratorium. Mereka setidaknya menguji 11 sampel. Misalnya nasi yang diambil dari sekolah, nasi yang diambil dari dapur, dencis saus dari sekolah, dencis saus dari dapur, tahu goreng saus dari sekolah, dan tahu goreng saus dari dapur.
Berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dengan nomor 008.2/4129/UPTD LABKES/VIII/2026 tertanggal 16 Agustus 2026, terdapat tiga jenis bakteri yang terdeteksi dalam sampel makanan dari sekolah.
Sampel nasi dinyatakan positif mengandung Bacillus cereus. Kemudian, sampel ikan dencis dengan saus positif ditemukan Staphylococcus aureus.
Selain itu, pada sample muntahan dari salah satu korban pemeriksaan juga menemukan Staphylococcus aureus. Makanan inilah yang akhirnya mengakibatkan 300 lebih dari dua sekolah SMA di Berastagi mengalami keracunan.
(Ton/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWSPPMSU Siapkan Aksi ke Kafe Satuan.co Binjai, Oza Hasibuan Sebut Acara Halloween Tak Miliki Izin
hendra·8 menit yang lalu -
-
HUKUM DAN KRIMINALKejagung Geledah 6 Lokasi Kasus Korupsi Tambang Nikel Sultra, Sita Uang Rp11,8 Miliar
hendra·1 jam yang lalu -
NEWS VIDEOKetua DPD Terima Delegasi Tatarstan, Jajaki Peluang Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Rusia
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
SUMSELDPR RI Soroti Rendahnya Penyerapan KUR di Sumsel dan Dorong Percepatan Kawasan Industri
hendra·2 jam yang lalu -
NEWSBobby Nasution Diminta Hentikan Sementara Proyek Turap Sungai di Tapteng, Besi Berkarat Jadi Sorotan
hendra·2 jam yang lalu -
NEWSPemkab Nias Selatan Finalisasi Ranperda Perlindungan Lahan Pertanian, Ini 5 Poin Penting Hasil FGD
hendra·2 jam yang lalu -
EKONOMIKetua DPD Ajak Daerah Jajaki Peluang Kerja Sama Ekonomi dengan Tatarstan Rusia
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
KESEHATANRSUD Pirngadi Medan Mulai Layani Penanganan Kateterisasi Jantung
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
NEWS VIDEOPemerintah Angkat PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Rekrutmen CPNS Dibuka November 2026
Fadli Tara·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan