Nusantaraterkini.co, MEDAN - Provinsi Sumatra Utara (Sumut) diproyeksi akan mencatatkan angka deflasi pada Mei 2025 seiring penurunan tajam harga sejumlah kebutuhan pokok. Deflasi diprediksi terjadi juga akibat lemahnya daya beli masyarakat.
"Deflasi Mei dipicu oleh lonjakan pasokan dan penurunan permintaan," ungkap Gunawan Benjamin, Akademisi Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Selasa (27/5/2025).
Dia mencatat, harga cabai merah mengalami penurunan signifikan di berbagai daerah di Sumut. Penurunan lebih dari 33% tercatat di pasar tradisional dan pusat distribusi.
Harga cabai rawit juga mengalami koreksi besar selama Mei. Penurunan di atas 18% dicatatkan berdasarkan data pergerakan harian.
Baca Juga: Komisi XI: Waspadai Deflasi Tahunan, Daya Beli Masih Lemah
Kemudian minyak goreng curah mengalami penurunan harga secara konsisten. Penurunan sekitar 8,7% terjadi pada distribusi ritel dan grosir.
Harga bawang merah dan bawang putih turut mengalami penurunan. Penurunan masing-masing sebesar 2% dan 11% terpantau di sejumlah titik penjualan.
Harga daging ayam mengalami kenaikan tipis, tetapi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Kenaikan di bawah 0,5% tercatat di sebagian pedagang, bahkan masih ditemukan penurunan.
"Harga gula pasir curah juga menunjukkan tren penurunan, begitu pun dengan minyak goreng curah," ujar Gunawan.
Dia memeroyeksikan deflasi di Sumut akan mencapai di atas 0,4% pada Mei 2025. Prediksi tersebut muncul karena tren penurunan harga yang meluas.
Penurunan harga cabai merah, cabai rawit dan bawang merah dinilainya akan menjadi penyumbang terbesar deflasi. Sementara harga minyak goreng dipengaruhi melemahnya harga minyak sawit mentah (CPO).
Penurunan ini terjadi setelah Amerika Serikat menaikkan tarif resiprokal terhadap Indonesia sebesar 32%. Karena itu, deflasi pada Mei 2025 dinilainya dipengaruhi banyak faktor seperti pasokan tinggi, permintaan rendah, serta dampak ketegangan perdagangan global.
Baca Juga: Deflasi Melanda Pasar Harga Cabai Anjlok Setelah Pasokan Normal
Sementara itu, rencana pemerintah melanjutkan diskon tarif listrik pada Juni dan Juli 2025 dengan menyasar pelanggan rumah tangga berdaya listrik di bawah 1.300 VA, mendapat sorotan. Kebijakan itu dinilai dapat memunculkan bias dalam membaca data deflasi.
"Diskon tarif listrik berpotensi menciptakan deflasi buatan, dapat menyamarkan tren pelemahan konsumsi masyarakat," ungkap Paidi, Akademisi Ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU).
Masyarakat bisa keliru memahami penyebab deflasi. Menurut dia, penurunan harga bukan murni karena intervensi kebijakan, tetapi akibat turunnya daya beli.
Bahkan dia memerediksi Sumut akan kembali mengalami deflasi pada Juni 2025. Deflasi lanjutan diperkirakan terjadi jika permintaan masyarakat belum pulih.
Dia mengimbau pemerintah fokus kepada penyebab struktural penurunan konsumsi. Evaluasi kebijakan disarankan dilakukan berdasarkan data objektif dan menyeluruh.
Paidi akan memertanyakan efektifitas insentif tersebut jika deflasi terus berlanjut. Sebab kebijakan sementara, seperti subsidi tarif listrik, dianggapnya belum cukup kuat untuk mengangkat daya beli masyarakat.
Subsidi tarif listrik hanya akan berdampak sesaat, khususnya terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK). Setelah kebijakan dihentikan, tekanan harga akan kembali muncul.
"Pemerintah harus lebih jernih dalam mengevaluasi tren harga. Pemahaman menyeluruh sangat diperlukan agar kebijakan yang dikeluarkan bisa tepat sasaran dan berkelanjutan," pungkasnya.
(Yos/Nusantaraterkini.co)
