Nusantaraterkini.co, MEDAN - Penurunan harga minyak mentah dunia menjadi perhatian utama pasar keuangan di Indonesia, di mana IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) terus tertekan oleh kinerja buruk emiten di sektor energi.
Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mencatat bahwa meskipun terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah yang biasanya mendorong kenaikan harga minyak mentah global, kali ini harga minyak justru turun ke level $74 per barel dari posisi sebelumnya di kisaran $77 per barel.
Baca Juga : Pasar Minyak dalam Gejolak: Premi Risiko Geopolitik Iran dan Rebut Pasokan Venezuela
"Ini adalah hasil dari keputusan China yang menunda peluncuran stimulus tambahan, yang pada gilirannya menurunkan ekspektasi permintaan minyak mentah. Dengan kondisi tersebut, investor menjadi ragu terkait prospek emiten di sektor energi," jelasnya kepada Nusantaraterkini.co, Rabu (9/10/2024).
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Melemah Seiring Sikap Investor Cenderung Wait and See
Penurunan harga minyak ini, lanjut Gunawan, memberikan tekanan signifikan pada emiten energi di pasar saham Indonesia. Emiten seperti perusahaan minyak dan gas, yang memiliki kontribusi besar terhadap IHSG, diperkirakan akan mengalami koreksi yang berdampak pada performa IHSG secara keseluruhan.
"Pelemahan di sektor energi ini cukup mencolok. IHSG sempat dibuka melemah tipis di level 7.556,55, dan dengan tekanan jual yang masih mendominasi, pasar berpotensi berada dalam tekanan sepanjang hari," tambahnya.
Baca Juga : IHSG Masih Tertekan Sentimen MSCI, Simak Strategi dan Rekomendasi Saham Senin 2 Februari 2026
Selain sektor energi, Gunawan juga menyoroti dinamika di sektor lain yang turut memberikan kontribusi pada pergerakan IHSG. Menurutnya, meskipun bursa di Asia pada umumnya diperdagangkan di zona hijau, kekhawatiran global terhadap perlambatan ekonomi yang dipimpin oleh keputusan China dan ketidakpastian pasar keuangan global telah mempengaruhi minat investor terhadap pasar modal Indonesia.
Baca Juga : Ketidakselarasan dengan Prabowonomics Dinilai Jadi Pemicu Eksodus Massal Petinggi OJK dan BEI
"Pasar saat ini berada dalam situasi yang sensitif terhadap perkembangan eksternal, termasuk keputusan dari bank sentral di negara-negara besar," ungkapnya.
Di sisi lain, Gunawan mencatat bahwa penguatan tipis mata uang Rupiah, yang terpantau di level 15.615 per US Dolar, memberikan sedikit angin segar bagi pelaku pasar.
Baca Juga : Harga Emas Tahun 2026 Masih Bullish
"Rupiah yang menguat sedikit memberikan sinyal positif. Jika Rupiah terus stabil di rentang 15.600 hingga 15.650, itu bisa membantu mengurangi tekanan pada IHSG. Namun, tetap ada risiko volatilitas yang tinggi," jelasnya.
Baca Juga : Program Makan Bergizi Gratis Diprediksi Jaga Ekonomi Sumut di Level 5% pada 2026
Menurut Gunawan, pergerakan IHSG pada hari ini diperkirakan akan berada di rentang 7.500 hingga 7.570, dengan faktor penentu utamanya adalah data ekonomi dari Amerika Serikat yang akan dirilis malam nanti.
"Pelaku pasar akan mencermati data inflasi dan pengangguran AS, yang bisa mengarahkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The FED. Jika data menunjukkan bahwa ekonomi AS masih solid, harapan pemangkasan suku bunga secara agresif oleh The FED bisa memudar, yang berpotensi memberikan tekanan lebih lanjut pada pasar saham global, termasuk Indonesia," tuturnya.
Selain minyak, harga emas juga menjadi sorotan utama. Gunawan mencatat bahwa harga emas global telah mengalami penurunan signifikan ke level $2.618 per ons troy. Menurutnya, ini menunjukkan bahwa para investor tengah bersiap-siap untuk menghadapi rilis data ekonomi AS.
"Penurunan harga emas ini didorong oleh ekspektasi bahwa ekonomi AS akan tetap kuat meskipun ada beberapa indikator yang menurun, dan ini berpotensi menunda pemotongan suku bunga The FED yang lebih cepat. Jika itu terjadi, harga emas bisa terus mengalami tekanan," katanya.
Secara keseluruhan, Gunawan menegaskan bahwa volatilitas di pasar keuangan global akan terus menjadi faktor dominan dalam menentukan arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
"Kita berada dalam fase yang cukup rentan. Pelaku pasar harus berhati-hati dalam menilai sentimen global dan bagaimana itu bisa berdampak pada kondisi domestik, terutama di sektor-sektor strategis seperti energi, keuangan, dan komoditas," tutupnya.
(cw9/Nusantaraterkini.co)
