Harga Beras Masih Tinggi, Legislator: Negeri Tidak Boleh Bergantung kepada Impor
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR Ansy Lema mengatakan, selama ini dari tahun ketahun harga beras dan jumlah total impor semakin tinggi.
Baca Juga : 85 Daerah Masih Defisit Pangan, DPR Desak Negara Hadir Nyata di Tengah Program MBG
Selama ini pula pemerintah masih bekutat pada persoalan mewujudkan ketahanan pangan atau food security, padahal dalam konstitusi disebutkan untuk terwujudnya kedaulatan pangan.
Baca Juga : Harga Cabai Rawit Naik Hingga 104,2%, Disperindag ESDM Sumut Siapkan Langkah Antisipasi
“Berbicara pangan, ini soal bicara hidup dan matinya sebuah bangsa karena ini aspek esensial dan primer, kita tidak boleh tergantung pada impor dari luar terus menerus. Berarti sebenarnya kan rupiah atau uang kita itu kan lari keluar negeri dan menguntungkan petani luar. Nah, persoalan ini yang hari ini belum bisa dijelaskan oleh seluruh stakeholder yang mengurus tentang pangan, terutama beras ini,” ujarnya, Senin (1/4/2024).
Politisi PDIP ini menyebutkan, untuk menyelesaikan akar persoalan ini perlu diagnosa yang tepat, sehingga akan menghasilkan kebijakan yang tepat. Persoalannya apakah masalahnya di sisi Bulog yang tidak mampu menyerap gabah petani dalam jumlah yang banyak atau memang persoalannya adalah di hulu (Kementerian Pertanian) yang bermasalah dari aspek produksi padi.
Baca Juga : Kritik Impor Garam Australia, Firman Soebagyo: Jangan Biarkan Petani Lokal Berjuang Sendiri
“Nah, ini yang selalu menjadi ketegangan antara aspek hulu dan juga aspek dihilir, sedangkan rakyat yang mengalami penderitaannya. Petani juga kalau kemudian yang masuk itu adalah beras impor dalam jumlah besar tentu membuat mereka sulit,” ungkapnya.
Baca Juga : DPR Dorong Perum Bulog Jadi Badan Mandiri Demi Stabilitas Harga Pangan
Legislator Dapil NTT II ini menyatakan, selama ini masing-masing institusi negara yang mengurus tentang pangan ini berjalan sendiri, tidak heran Indonesia akan selalu berputar-putar dan mengulangi persoalan klasik, yakni, ketergantungan yang tinggi pada impor dan juga harga pangan ataupun beras yang terus mahal.
“Sementara kesejahteraan petani kita terus menurun dan kemudian konsumen dipaksa untuk membeli dengan harga yang relatif mahal. Jadi, kalau saya melihat, BULOG selama ini hanya melakukan kerja-kerja penyelamatan agar kemudian stabilisasi harga ini bisa berjalan dan seolah-olah stabilisasi itu hanya bisa dilakukan melalui importasi,” terangnya.
Baca Juga : Kinerja Perdagangan: Surplus Terjaga, Waspada Penurunan Negara Mitra
(cw1/nusantaraterkini.co)
