Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Duka Bencana tak Kunjung Usai, Warga Aceh Tamiang Rayakan Meugang Dalam Posko Pengungsian 

Editor:  Fadli Tara
Reporter: Muhammad Alfi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!

Nusantaraterkini.co, ACEH TAMIANG - Meugang menjadi salah satu tradisi bagi masyarakat aceh khususnya yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang, dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan.

Biasanya, dalam menjalani tradisi meugang sejumlah warga pun berbondong-bondong berbelanja kebutuhan pokok serta daging sapi atau pun daging kambing, untuk selanjutnya diolah sebagai hidangan makan bersama keluarga.

Baca Juga : Megang di Tengah Bencana Aceh Tamiang, Harga Sayur Mayur Melambung Tinggi

Namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pasca bencana banjir bandang yang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang pada 26 November 2025 lalu, sejumlah warga pun terpaksa merayakan tradisi meugang di sejumlah posko-posko pengungsian dengan seadanya.

Baca Juga : Harga Daging Sapi Tembus Rp 170 ribu/Kg di Tapteng

Hal ini lantaran hilangnya sejumlah pemukiman warga akibat tersapu derasnya arus banjir. Sehingga, warga yang kehilangan tempat tinggalnya ini pun terpaksa masih harus bertahan di posko pengungsian.

Sementara itu, Ibnu Nizar, salah seorang warga desa Kota Lintang Bawah, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang mengatakan, dalam merayakan tradisi meugang jelang Ramadhan tahun ini, dirinya bersama warga lainnya yang ada di posko pengungsian hanya dapat berharap bantuan dari relawan yang berkunjung ke desa mereka.

Baca Juga : WNI Asal Sumsel di Kamboja Alami Kekerasan, Gubernur: Boleh Kerja ke Luar Negeri tapi Jalur Resmi

"untuk kondisinya ya seperti inilah, untuk mata pencarian saya sudah gak ada lagi. Jadi kalau untuk meugang ini, ada semalam bantuan daging sapi dari relawan yang dibagikan kepada masyarakat yang ada di posko-posko," ujar Ibnu Nizar, Rabu (18/2/2026) siang.

Baca Juga : Komisi III DPR: Fit and Proper Test Adies Kadir Tak Langgar Aturan

Selain itu, Nizar juga mengungkapkan, jika dirinya dan beberapa warga lainnya terpaksa masih harus bertahan hidup di tengah tenda pengungsian yang jauh dari kata layak lantaran belum tersentuh bantuan apa pun dari pemerintah.

"Kalau untuk bantuan dari pemerintah khususnya terkait tempat tinggal itu belum ada. Namun, kemarin ada memang di tawari hunian sementara (Huntara). Tetapi lokasinya terlalu jauh dari sini, jadi warga gak ada yang mau," ungkapnya.

Nizar dan beberapa warga lain yang ada di posko pengungsian ini pun, berharap pemerintah dapat segera membangun kembali rumah mereka yang hancur tersapu banjir agar dapat menjalani ibadah puasa serta merayahan hari raya idul fitri dengan kondisi tempat tinggal yang layak.

"Kalau kami sih berharap supaya segera lah di bangun kembali rumah kami yang hilang ini. Sebab, saat ini uda gak ada lagi mata pencarian kami untuk bisa membangun sendiri rumah-rumah kami," pungkasnya.

(Cw4/Nusantaraterkini.co)