Kinerja Perdagangan: Surplus Terjaga, Waspada Penurunan Negara Mitra
Neraca perdagangan Indonesia November 2025 surplus US$2,66 miliar. Ekspor nonmigas kuat, namun penurunan di sejumlah negara mitra perlu diwaspadai.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan hasil positif pada penghujung tahun 2025. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia berhasil membukukan surplus sebesar US$2,66 miliar pada periode November 2025. Meski secara tahunan nilai ekspor mengalami kontraksi, posisi surplus tetap terjaga berkat performa perdagangan nonmigas yang dominan.
Secara kumulatif, kinerja perdagangan sepanjang Januari hingga November 2025 menunjukkan tren yang solid dengan total surplus mencapai US38,54 miliar. Angka ini merupakan hasil dari total ekspor sebesar US256,56 miliar melawan total impor senilai US$218,02 miliar.
Dikutip dari Berita Resmi Statistik (BRS) BPS RI, Kamis (8/1/2026), dalam struktur neraca perdagangan nonmigas, Indonesia masih mengandalkan pasar tradisional untuk meraup pundi-pundi devisa. Tiongkok tetap kokoh sebagai mitra dagang utama dengan nilai ekspor mencapai US58,24 miliar selama sebelas bulan pertama tahun 2025. Di posisi kedua, Amerika Serikat menyumbang US28,14 miliar, disusul oleh India dengan nilai US$16,44 miliar.
Peningkatan ekspor yang cukup mencolok juga terlihat pada perdagangan dengan Singapura, yang mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 31,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dinamika Impor dan Defisit di Beberapa Lini
Di sisi lain, ketergantungan impor Indonesia masih terpusat pada beberapa negara produsen utama. Tiongkok tidak hanya menjadi tujuan ekspor terbesar, tetapi juga menjadi pemasok impor utama ke tanah air dengan nilai mencapai US$77,52 miliar atau mencakup 41,10 persen dari total impor nonmigas. Kondisi ini menempatkan Tiongkok sebagai mitra dagang dengan nilai transaksi dua arah terbesar bagi Indonesia.
Selain Tiongkok, Jepang dan Amerika Serikat juga menjadi pemasok utama barang impor, masing-masing dengan nilai US13,28 miliar dan US8,93 miliar.
Meskipun secara keseluruhan neraca perdagangan berada dalam posisi surplus, laporan BPS juga memberikan catatan terkait penurunan kinerja ekspor di beberapa negara mitra utama. Ekspor ke Jepang tercatat mengalami penurunan tajam sebesar 17,91 persen atau setara US$3,07 miliar. Penurunan juga terjadi pada pasar India (turun 13,27 persen) dan Australia yang merosot hingga 24,51 persen.
Penurunan ekspor ini dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas global, khususnya bahan bakar mineral yang nilai ekspornya secara umum menyusut lebih dari US$7 miliar sepanjang tahun ini. Namun, penurunan tersebut berhasil dikompensasi oleh lonjakan permintaan pada sektor lemak dan minyak hewani/nabati yang naik pesat sebesar 26,24 persen.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWSDisindir Said Didu soal LSP, Habiburokhman Singgung Doktrin Perkalian Nol
Herman Saleh Harahap·21 menit yang lalu -
SEPAKBOLAJadwal Lengkap Super League dan Championship Indonesia Hari Ini
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
EKONOMIMenaker: Ekonomi Sirkular Buka Peluang Jutaan Lapangan Kerja Baru
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
PENDIDIKANNihayatul Wafiroh Dorong Magang Nasional Jadi Jembatan Lulusan ke Dunia Kerja
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
PERISTIWAPenembakan Massal di Krakow Polandia Tewaskan Enam Orang
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
NEWSKapolri Didesak Buka Daftar Korban Penyadapan yang Seret Mantan Petinggi Polri
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
PERISTIWATNI Temukan Black Box M-17 yang Jatuh Saat Tugas Karhutla
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
E-SportMPL ID Season 18: BTR Tumbangkan TLID 4-3, Melaju ke Grand Final
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu -
-
INTERNASIONALIran-AS Kembali Memanas! Dua Rudal Hantam Pulau Qeshm, Trump Akui Serangan Terbatas
hendra·11 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan