Fenomena Bendera One Piece Tamparan untuk Menteri Fadli Zon
Pasalnya alih-alih budaya Indonesia yang dijadikan bahan untuk protes, namun budaya Jepang yang masuk
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Pakar komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio (Hensa) menilai pengibaran bendera One Piece merupakan bentuk keresahan masyarakat respons kebijakan pemerintah.
“Jadi ini bentuk protes yang dibuat secara lucu kemudian dekat dengan masyarakat, karena kebijakan-kebijakan seperti pajak amplop hajatan atau wacana WA berbayar membuat masyarakat mengernyitkan dahi,” ujarnya, Senin (4/8/2025).
Menurutnya, fenomena ini harusnya menampar Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Pasalnya alih-alih budaya Indonesia yang dijadikan bahan untuk protes, namun budaya Jepang yang masuk.
Baca Juga : Legislator Firman Soebagyo Minta Warga Bijak soal Tren Pengibaran Bendera One Piece
Hal ini juga dinilainya merupakan respons kurangnya perhatian terhadap budaya lokal sehingga membuat One Piece menjadi alat ekspresi.
“Harusnya yang ditampar pertama kali tuh Menteri Budaya, kenapa ada budaya Jepang masuk Indonesia dan jadi tren? What happened? Ada apa dengan budaya kita?,” katanya.
Lebih lanjut Hensa berpendapat, penggunaan simbol asing ini dinilai lebih aman daripada simbol lokal. Sebab, simbol lokal kerap disalahartikan dan justru berpotensi terancam terkena pidana.
“Jadi kalau pakai komiknya Indonesia dimungkinkan sangat dekat, nanti mereka takut juga diapa-apain, kena UU ITE atau apa, jadi ambil ceritanya yang di Jepang saja,” ucapnya.
Pendiri lembaga survei KedaiKopi ini meyakini masyarakat Indonesia memahami batas-batas berekspresi di mana menempatkan bendera Merah Putih di atas simbol lain.
Baca Juga : DPR Minta Tren Bendera One Piece Dihentikan Jelang HUT RI ke-80
Ia juga mengingatkan Presiden Ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selalu menjamin kebebasan berekspresi.
“Saya yakin masyarakat paham batasannya, mereka tahu mana yang manga, mana yang nyata, makanya bendera Jolly Roger dipasang di bawah Merah Putih, sesuai pesan Gus Dur soal kebebasan berekspresi,” kata Hensa.
Ia berharap pemerintah memperbaiki komunikasi publik kepada masyarakat. Terutama dalam menerapkan sebuah kebijakan publik.
“Mudah-mudahan dengan fenomena One Piece-One Piece ini, pemerintah, satu komunikasi diperbaiki, kedua kalau belum ajeg gitu soal kebijakan, jangan ngomong dulu. Jangan setiap pejabat testing the water. Marah loh masyarakat, lama-lama capek dites-tes terus,” katanya.
(Cw/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWSDirjenpas Buka-bukaan soal Foto Jimmy Masrin dan Bangunan Mirip Kontainer di Lapas Cibinong
hendra·15 menit yang lalu -
KRIMINALSatresnarkoba Polres Binjai Tangkap 4 Terduga Pengedar, Sita Sabu dan 7 Butir Ekstasi
hendra·40 menit yang lalu -
NASIONALMuseum Bing Slamet Resmi Dibuka, Bang Azran: Merawat Warisan Maestro untuk Generasi Muda
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
KRIMINALPolda Sumut Sikat 485 Tersangka Curat dan Curas dalam Dua Pekan
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
POLITIKKelakar Bobby Nasution ke Maba di UMSU: Banyak-banyak Foto Pas Kuliah, Biar Ada Bukti Ijazah
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SUMSELPolda Sumsel Raih Apresiasi Kakorbinmas Baharkam Polri Berkat Capaian Gerakan Pangan Murah dan Satkamling
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
EKONOMIAwal Pekan Loyo, Harga Emas Antam Jatuh ke Rp2.597.000 Per Gram
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
POLITIKTolak Wacana Diusung 2 Fraksi di Pilpres 2029, Fernando Emas: Jangan Akali Aturan
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
EKONOMIRupiah Dibuka Melemah ke Rp17.920 per Dolar AS, Pasar Cermati Data Inflasi
hendra·4 jam yang lalu -
NASIONALASN Meninggal Saat Latsarmil Komcad, TB Hasanuddin Desak Evaluasi Total SOP Kemenhan
Rozie Winata·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan