Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Daya Beli Petani Sumut Tertekan di Penghujung 2025

Editor:  Herman Saleh Harahap
Reporter: Herman Saleh Harahap
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Aktivitas petani di pedesaan. Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Utara pada Desember 2025 tercatat sebesar 146,61.(foto:istimewa)

Nusantaraterkini.co, ​MEDAN-Kondisi ekonomi petani di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menghadapi tantangan serius pada penutupan tahun 2025. Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat kemampuan atau daya beli masyarakat tani mengalami penurunan yang cukup signifikan. Berdasarkan pemantauan harga-harga di pedesaan, Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Utara pada Desember 2025 tercatat sebesar 146,61, angka ini turun sebesar 1,82 persen jika dibandingkan dengan capaian bulan sebelumnya yang masih bertengger di angka 149,33. 

​Penurunan ini merupakan kabar kurang menggembirakan, karena NTP merupakan indikator utama untuk mengukur sejauh mana produk pertanian yang dihasilkan petani memiliki daya tukar yang seimbang dengan barang dan jasa yang mereka konsumsi, termasuk biaya untuk modal produksi. Turunnya angka ini menandakan bahwa beban pengeluaran petani meningkat lebih cepat daripada pendapatan yang mereka terima dari hasil panen. 

​Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sumut, Asim Saputra, dalam laporannya merinci bahwa penurunan daya beli ini tidak terjadi merata di semua sektor, namun didominasi oleh empat subsektor utama. Sektor tanaman perkebunan rakyat menjadi yang paling terdampak dengan penurunan mencapai 2,45 persen, diikuti oleh tanaman pangan sebesar 1,88 persen, peternakan turun 1,06 persen, dan sektor perikanan yang terkoreksi tipis sebesar 0,26 persen. 

"Salah satu pemicu utama merosotnya kesejahteraan petani ini adalah kenaikan harga barang-barang konsumsi di tingkat rumah tangga pedesaan. Di saat indeks harga yang diterima petani hanya naik tipis sebesar 0,23 persen, indeks harga yang harus dibayar petani justru melonjak hingga 2,08 persen," ujar Asim, seperti dilansir dari website resmi BPS, Rabu (7/1/2026).

Baca Juga : Daya Beli Petani Sumut Menguat di Tengah Penurunan Harga Jual

Disebutkannya, kenaikan biaya hidup ini sangat dipengaruhi oleh melambungnya harga beberapa komoditas dapur seperti bawang merah, cabai rawit, dan cabai merah yang harus dibeli oleh petani untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi di lapangan semakin sulit karena beberapa komoditas andalan petani justru mengalami penurunan harga atau "andil negatif." 

"Di sektor tanaman pangan, komoditas ketela rambat menjadi penyumbang utama penurunan, sementara di sektor perkebunan rakyat, harga karet, kakao, dan kopi tercatat mengalami tren menurun yang memukul pendapatan petani setempat," paparnya

Asim menambahkan, di sektor peternakan, harga ternak seperti babi, kambing, dan domba juga memberikan kontribusi terhadap turunnya pendapatan peternak. 

​Meskipun gambaran besar menunjukkan kelesuan, secercah harapan muncul dari subsektor tanaman hortikultura. Berbeda dengan sektor lainnya, para petani hortikultura justru menikmati kenaikan daya beli sebesar 2,72 persen. Hal ini didorong oleh lonjakan harga jual komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, dan ketimun di pasaran, meskipun di sisi lain mereka juga harus menanggung kenaikan biaya konsumsi dan bensin. 

Usaha Rumah Tangga Lesu

​Kelesuan ekonomi ini juga merambat pada Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP), yang secara khusus mengukur kemampuan usaha pertanian tanpa menghitung konsumsi rumah tangga. NTUP Sumut pada Desember 2025 turun 0,26 persen menjadi 150,47. Penurunan ini disebabkan karena kenaikan harga hasil pertanian tidak mampu mengejar kenaikan biaya produksi dan penambahan barang modal, seperti pupuk, bibit, dan peralatan pertanian yang naik sebesar 0,49 persen. 

​Secara keseluruhan, sepanjang tahun 2025, rata-rata NTP Sumatera Utara berada di angka 144,21. Meski secara angka indeks masih di atas 100 yang berarti petani masih memiliki surplus, tren penurunan di akhir tahun ini menjadi sinyal penting bagi para pemangku kebijakan untuk memperhatikan stabilitas harga kebutuhan pokok di pedesaan.

Baca Juga : Perang Dagang AS-China Tekan Daya Beli Petani di Sumut

"Hal penting lainnya yakni menjaga harga jual komoditas unggulan daerah agar kesejahteraan petani tidak terus tergerus di masa mendatang," pungkasnya.

(Emn/Nusantaraterkini.co)