Daya Beli Petani Sumut Menguat di Tengah Penurunan Harga Jual
NTP Sumatera Utara naik ke 149,33 pada November 2025, menunjukkan daya beli petani menguat meski harga jual beberapa komoditas turun.
Nusantaraterkini.co,MEDAN-Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mengumumkan Nilai Tukar Petani (NTP) wilayah tersebut pada November 2025 tercatat sebesar 149,33, mengalami kenaikan tipis sebesar 0,35 persen dibandingkan dengan NTP bulan sebelumnya 148,81. Kenaikan NTP ini mengindikasikan penguatan daya beli petani di perdesaan, meskipun Indeks Harga yang Diterima Petani (It) secara keseluruhan turun.
NTP didefinisikan sebagai perbandingan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) terhadap Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib). "NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan," jelas Kepala BPS Sumut Asim Saputra, Senin (1/12/2025).
Baca Juga : Kereta Api Khusus Petani–Pedagang Dioperasikan, Komisi IV: Perkuat Rantai Pasokan dan Logistik Pertanian
Secara rata-rata, lanjutnya, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) pada November 2025 justru mengalami penurunan sebesar 0,57 persen, yaitu dari 185,21 menjadi 184,16. Penurunan ini disebabkan oleh anjloknya It subsektor tanaman hortikultura sebesar 9,03 persen, serta penurunan pada It subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,16 persen.
Namun, kemampuan daya beli petani tetap meningkat karena Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib), yang mencerminkan biaya konsumsi rumah tangga dan biaya produksi, turun lebih dalam. BPS mencatat Ib Provinsi Sumatera Utara turun 0,91 persen dari 124,46 menjadi 123,32, di mana penurunan Ib terjadi pada seluruh subsektor.
"Kenaikan NTP November 2025 disebabkan oleh naiknya NTP empat subsektor, yaitu NTP subsektor Tanaman Pangan sebesar 1,37 persen, NTP subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,88 persen, NTP subsektor Peternakan sebesar 0,88 persen, dan NTP subsektor Perikanan sebesar 2,25 persen," lanjut Asim.
Ia merinci, Subsektor Tanaman Pangan mencatat kenaikan karena meningkatnya Indeks Kelompok Palawija sebesar 3,59 persen, yang disumbang terbesar oleh komoditas jagung, ketela pohon, dan ketela rambat. Sementara itu, kenaikan pada subsektor Perkebunan Rakyat didorong oleh komoditas kopi.
Baca Juga : Legislator Soroti Tantangan Petani dan Desak Penguatan Dukungan Pemerintah
Kendati terjadi kenaikan pada empat subsektor, BPS juga menyoroti adanya tekanan signifikan pada subsektor Hortikultura. "Sementara itu, NTP subsektor Tanaman Hortikultura mengalami penurunan sebesar 8,59 persen," ungkap Asim.
Ditambahkannya, penurunan tajam NTP Hortikultura (NTPH) ini, terutama disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani untuk komoditas cabai merah, kol/kubis, dan tomat. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani untuk seluruh subsektor mengalami penurunan.
(*/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWSPanglima TNI Ziarah ke Makam Soeharto dan Jenderal Soedirman
Herman Saleh Harahap·2 menit yang lalu -
EKONOMIDugaan Tying LPG, PT Hibarnas Jaya Ajukan Perubahan Perilaku ke KPPU
Herman Saleh Harahap·34 menit yang lalu -
PENDIDIKANPertukaran Pelajar, Rico Waas Lepas 10 Pelajar ke Ipoh
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
VIRALViral, Pria Diduga Kepala SPPG di Tebingtinggi Kepergok Istri Sah Dugem Bareng Selingkuhan Berujung Pelaporan
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
NASIONALAnggota DPR Desak Evaluasi Sistem Keselamatan Pelayaran
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
-
KRIMINALBawa 44 Bungkus Sabu dari Aceh, Dua Pria Ditangkap di Besitang
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
NASIONALTinjau API Banyuwangi, Wamenaker Minta Peserta MagangHub Asah Kompetensi
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
PERISTIWAPembangunan Tong Pengolahan Emas di Desa Simalagi Madina Telan Korban Jiwa
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
SUMSELGubernur Sumsel Tinjau Penanganan Karhutla dan Kondisi Gajah di Suaka Margasatwa Padang Sugihan
Rozie Winata·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan