Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Bencana di Tapteng Membuat Ayah Ini Terancam Putuskan Kuliah Empat Anaknya: Tolong Kami

Editor:  hendra
Reporter: Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Darmanto Sitompul (55), saat menceritakan dampak bencana terhadap kehidupannya. Anak-anaknya terancam tak bisa melanjutkan pendidikan. (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, TAPTENG - Bencana banjir dan longsor telah menutup akses jalan dan lahan perkebunan para penyintas di Desa Sait Kalangan II, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, tak hanya memutus jalur transportasi, tetapi juga menghancurkan sumber penghidupan mereka. Dampaknya kini merembet ke sektor pendidikan.

Darmanto Sitompul (55), seorang ayah dari lima anak, mengaku tak lagi mampu membayar uang sekolah dan kuliah anak-anaknya.

“Sekarang kami sudah berat sekali membiayai anak sekolah dan belanja rumah tangga,” ujar Darmanto sambil menahan tangis saat ditemui Nusantaraterkini.co, di Kelurahan Hutanabolon, pada Jumat (16/1/2026).

Baca Juga : Jembatan Anggoli Penghubung Tapsel-Tapteng Sudah Dapat Dilalui

Sejak kebun miliknya tertimbun batu, lumpur, dan kayu akibat longsor, dirinya dan banyak warga desa kehilangan pemasukan yang selama ini menjadi tumpuan hidup.

Kebun tersebut sebelumnya menyediakan penghasilan rutin mingguan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya pendidikan anak. Namun, sejak akses jalan menuju kebun terputus dan lahan tak bisa diolah, seluruh mata pencaharian itu lumpuh.

“Modal saya mati di situ. Semua hasil kebun dan barang terbuang, tidak sempat dijual,” kata Darmanto.

Baca Juga : Anggota DPRD Tapteng Fraksi PDIP Salurkan Bantuan Sembako ke Korban Bencana

Akibatnya, empat anak Darmanto yang sedang menempuh pendidikan tinggi kini terancam berhenti kuliah. Satu anak tercatat sebagai mahasiswa Universitas Terbuka semester sembilan, satu lainnya kuliah di Padangsidimpuan, satu di STIJ, dan satu di pesantren ber-asrama. Seorang anak lainnya masih duduk di bangku SMA. Hingga kini, uang semester mereka belum terbayar.

Darmanto mengaku telah menyampaikan kondisi tersebut kepada pihak kampus dan sekolah melalui anak-anaknya, tetapi belum ada respons atau kebijakan keringanan biaya. Bantuan yang diterima keluarga, katanya, sejauh ini terbatas pada bantuan makanan dari pemerintah saat mereka mengungsi ke wilayah bawah di Kecamatan Tukka.

“Kalau soal bantuan, baru itu saja yang kami terima sampai sekarang,” ujarnya.

Baca Juga : Longsor Bandung Barat Telan Korban, DPR Desak Basarnas Bergerak Cepat: Negara Jangan Lamban

Ia bersama warga Desa Sait Kalangan II telah mengajukan surat permohonan resmi kepada pemerintah daerah, anggota DPRD, dan pemerintah kabupaten, dengan harapan ada intervensi untuk pemulihan akses jalan dan bantuan biaya pendidikan. Menurutnya, tanpa pembukaan akses dan dukungan pemerintah, warga mustahil kembali mengolah kebun mereka.

“Kami bermohon kepada pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun daerah, agar membantu biaya sekolah anak-anak kami. Jangan sampai pendidikan mereka terputus karena bencana,” kata Darmanto.

Kepada Gubernur Sumatera Utara, Darmanto menitipkan harapan terakhirnya. “Kami mohon supaya pembiayaan anak sekolah ini bisa ditindaklanjuti. Itu yang paling utama bagi kami sekarang,” ucapnya.

Baca Juga : Penyintas Bencana Tapteng Tolak Relokasi, Pemkab: Tidak kita Paksa

Sejak bencana melanda, akses menuju Desa Sait Kalangan II, hingga kini masih terputus. Jalan utama menuju desa tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat karena tertimbun material longsor berupa tanah, batu berukuran besar, dan kayu, serta mengalami putus total di sejumlah titik.

Di beberapa lokasi, badan jalan amblas dan tergerus aliran air, menyisakan jurang dengan kedalaman bervariasi. Kondisi ini membuat jalur penghubung desa sama sekali tidak dapat difungsikan, bahkan untuk kendaraan darurat.

Akibat kerusakan tersebut, warga terpaksa berjalan kaki menempuh jarak sekitar lima kilometer dari posko utama di Kelurahan Hutanabolon untuk mencapai Desa Sigiring-giring. Perjalanan harus dilalui dengan melewati jalur sempit dan licin, menyusuri bekas longsoran serta aliran sungai kecil, sehingga menyulitkan mobilitas warga.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)