Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

3 Pekan Pascabanjir, SMa Santos Fransiskus Tapteng Sewa Alat Berat Sendiri untuk Bersihkan Lumpur

Editor:  Fadli Tara
Reporter: Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!

Nusantaraterkini.coTAPANULI TENGAH - Tiga minggu setelah banjir melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dampak bencana masih terasa di sejumlah fasilitas publik, termasuk di pusat kota.

Salah satu yang terdampak cukup parah adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) Santo Fransiskus, di Jalan Dr. M Hazirin, Kelurahan Aek Tolang, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, hingga kini, Sabtu (20/12/2025), masih dipenuhi endapan lumpur.

Baca Juga : Lumpur Setebal 1,5 Meter, SMA Santo Fransiskus Pandan Tapteng Bersih-bersih Mandiri Pakai Alat Berat

Pantauan di lokasi menunjukkan, halaman sekolah dan beberapa bagian bangunan masih tertutup lumpur. Bekas air yang tinggal didinding juga masih terlihat, lemari, buku-buku, hingga barang-barang lainnya juga masih berlumpur.

Sejak 12 hari terakhir, pihak sekolah bersama para pegawai terus melakukan pembersihan secara bertahap agar lingkungan sekolah kembali layak digunakan.

Kepala Sekolah SMA Santo Fransiskus, Suster Mariane Winefride Ordo Pewarta (OP), mengatakan jika ketinggian air yang masuk ke sekolah mencapai ketinggian sekitar satu setengah meter. Akibatnya, setelah surut, ketebalan lumpur yang menumpuk membuat pembersihan tidak bisa dilakukan secara manual sepenuhnya.

Untuk itu, pihak SMA Santo Fransiskus memutuskan menyewa satu unit alat berat secara mandiri. Alat berat tersebut digunakan untuk mengangkat dan memindahkan lumpur dari halaman sekolah yang sebelumnya tertutup endapan material banjir.

Baca Juga : Damkarmat Medan Kirim 5 Armada Ke Aceh Tamiang, Pastikan Layanan Kebakaran dalam Kota Tetap Aman

"Alat berat ini disewa dari sekolah dan juga dibantu oleh alumni juga. Sudah 12 hari pembersihan ini dilakukan," ucapnya kepada Nusantaratwrkini.co, Sabtu sore.

Selain alat berat, pembersihan juga dilakukan dengan cara gotong royong. Sejumlah pegawai sekolah terlibat langsung membersihkan ruang kelas, lorong sekolah, selokan, hingga peralatan belajar yang terdampak banjir. Sebagian pekerjaan dilakukan dengan sekop dan alat sederhana untuk menjangkau area yang tidak bisa dimasuki alat berat.

Hingga saat ini, proses pemulihan masih berjalan dan belum sepenuhnya tuntas. Beberapa ruang kelas masih membutuhkan pembersihan lanjutan, sementara akses masuk sekolah belum sepenuhnya bersih dari sisa lumpur.

Banjir yang melanda Tapanuli Tengah pada akhir November lalu tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga merusak fasilitas pendidikan, perkantoran, dan sarana umum lainnya. Sejumlah sekolah di wilayah ini terdampak dan membutuhkan waktu serta biaya yang tidak sedikit untuk kembali beroperasi secara normal.

Baca Juga : TNI Siap Terjunkan Personel Tambahan ke 3 Provinsi Terdampak Banjir

Kondisi SMA Santo Fransiskus menjadi gambaran bahwa pemulihan pascabanjir di Tapanuli Tengah masih menghadapi berbagai kendala di lapangan. Di tengah keterbatasan, pihak sekolah berupaya melakukan pemulihan dengan kemampuan yang ada, termasuk menyewa alat berat secara mandiri.

Pihak sekolah berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah maupun pihak terkait agar proses pemulihan fasilitas pendidikan dapat berjalan lebih cepat. Hingga kini, aktivitas pembersihan masih terus dilakukan sambil menunggu kondisi sekolah benar-benar pulih dari dampak banjir.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)