Nusantaraterkini.co,TAPANULI TENGAH – Memasuki pekan ketiga pasca-banjir bandang dan longsor yang menerjang Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, sejumlah fasilitas pendidikan masih berjuang melakukan pemulihan. Salah satunya adalah SMA Santo Fransiskus di Kecamatan Pandan yang hingga kini masih tertutup lumpur tebal.
Pantauan di lokasi pada Sabtu (20/12/2025), sekolah yang terletak di Jalan Dr M Hazirin, Kelurahan Aek Tolang ini tampak luluh lantak. Jejak air setinggi 1,5 meter masih membekas di dinding bangunan, sementara tumpukan buku pelajaran dan inventaris sekolah rusak tak terselamatkan. Sejumlah lemari, buku pelajaran, serta peralatan belajar tampak rusak dan berlumpur, menjadi penanda betapa derasnya banjir yang sempat menerjang kawasan ini.
Baca Juga : Trauma Banjir Bandang, Warga Desa Ujung Batu di Tapteng Bangun Tanggul Darurat Secara Mandiri
Sejak 12 hari terakhir, pihak sekolah bersama para pegawai dan guru melakukan pembersihan secara bertahap. Upaya ini dilakukan agar lingkungan sekolah kembali layak digunakan dan proses belajar mengajar dapat dimulai kembali pada awal tahun depan.
Kepala SMA Santo Fransiskus, Suster Mariane Winefride dari Ordo Pewarta (OP), menuturkan bahwa saat banjir terjadi, ketinggian air yang masuk ke lingkungan sekolah mencapai sekitar 1,5 meter. Kondisi tersebut menyebabkan lumpur mengendap sangat tebal setelah air surut, sehingga pembersihan tidak memungkinkan dilakukan secara manual sepenuhnya.
“Ketebalan lumpurnya luar biasa. Karena itu kami akhirnya memutuskan menyewa satu unit alat berat untuk membantu mengangkat dan memindahkan lumpur, terutama di halaman sekolah,” ujar Suster Mariane kepada Nusantaraterkini.co.
Menurut dia, penyewaan alat berat dilakukan secara mandiri oleh pihak sekolah, dengan dukungan dari para alumni dan pemerhati gereja.
“Alat berat ini kami sewa dengan bantuan alumni dan umat gereja. Sudah 12 hari pembersihan ini dilakukan,” katanya.
Selain menggunakan alat berat, proses pembersihan juga mengandalkan gotong royong. Para guru dan pegawai sekolah terlibat langsung membersihkan ruang kelas, lorong-lorong sekolah, selokan, hingga peralatan belajar yang terdampak banjir.
Di area yang tidak dapat dijangkau alat berat, pembersihan dilakukan menggunakan sekop dan peralatan sederhana.
Banjir yang melanda SMA Santo Fransiskus terjadi pada 25 November 2025, bertepatan dengan rencana kegiatan peringatan Hari Guru Nasional. Namun, hujan deras yang turun terus-menerus sejak beberapa hari sebelumnya membuat kegiatan tersebut urung dilaksanakan.
“Saat itu anak-anak sudah ada yang datang ke sekolah, ada juga yang belum. Kami hanya sempat doa pagi, lalu langsung memulangkan siswa karena air naik sangat cepat dan semakin tinggi,” tutur Suster Mariane.
Dalam situasi darurat itu, masih ada beberapa siswa yang sempat terjebak di dalam sekolah. Sebagian di antaranya terpaksa bertahan di lantai dua gedung sekolah dan menginap semalam karena akses keluar terputus akibat banjir.
“Masih ada satu dua anak yang tertahan dan harus menginap di lantai dua. Waktu itu air setinggi satu setengah meter, sampai ke pohon-pohon,” katanya.
Selama malam tersebut, sekolah juga sempat menjadi lokasi pengungsian sementara bagi warga sekitar. Beberapa guru, karyawan, dan penduduk ikut bertahan di lantai dua gedung sekolah hingga air berangsur surut keesokan harinya. Meski demikian, pemenuhan logistik sangat terbatas.
“Tidak ada apa-apa. Kami hanya saling mendampingi. Beberapa guru dan warga juga mengungsi di sini,” ujar Suster Mariane.
Hingga kini, proses pemulihan di SMA Santo Fransiskus belum sepenuhnya rampung. Sejumlah ruang kelas masih membutuhkan pembersihan lanjutan, sementara akses masuk sekolah belum benar-benar bersih dari sisa lumpur. Meski begitu, pihak sekolah menargetkan kegiatan belajar mengajar dapat kembali dimulai pada Januari 2026.
Terkait perayaan Natal, yang biasanya dirayakan dengan doa bersama, syukuran, nyanyian, dan tarian, tahun ini pihak sekolah memilih merayakannya secara sederhana.
“Untuk kali ini, semua berbela rasa. Kami hanya berdoa bersama,” kata Suster Mariane.
Ia juga menyampaikan harapannya kepada pemerintah agar dapat memberikan bantuan, terutama terkait pemulihan fasilitas belajar yang rusak akibat banjir dan longsor.
“Harapan kami, pemerintah bisa membantu fasilitas belajar anak-anak dan hal-hal lain yang rusak. Dengan dukungan itu, kami berharap anak-anak bisa kembali belajar dengan aman, nyaman, dan penuh sukacita,” ujarnya.
Baca Juga : Pascabanjir, Sungai Aek Sibundong di Tapteng Melebar: Warga Sorkam Khawatir Ancaman Luapan
Banjir yang melanda kawasan Pandan dan sekitarnya ini disebut sebagai kejadian yang jarang terjadi di lingkungan sekolah tersebut. Menurut Suster Mariane, selama satu setengah tahun dirinya bertugas di SMA Santo Fransiskus, peristiwa banjir sebesar ini baru pertama kali dialami sekolah tersebut.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
