nusantaraterkini.co, JAKARTA - Solidaritas Pemuda Desa (SPEDA) secara resmi menyatakan dukungan agar Jenderal (Purn.) H. M. Soeharto dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dengan sebutan kehormatan.
Dukungan ini disampaikan melalui pernyataan resmi bidang Pendidikan dan Digitalisasi SPEDA, yang menilai bahwa Soeharto memiliki kontribusi monumental terhadap pembangunan desa, pemerataan pendidikan, dan fondasi digitalisasi nasional.
Ketua Bidang Pendidikan dan Digitalisasi SPEDA, Luis Andika, menjelaskan bahwa hasil kajian internal organisasi menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan era Soeharto telah meletakkan dasar kuat bagi kemajuan ekonomi dan sosial di wilayah pedesaan Indonesia.
Baca Juga : Ketua Yayasan UTA 45 Mediasi Skorsing Mahasiswa Penolak Gelar Pahlawan Soeharto
Menurut Luis, visi pembangunan Soeharto berpijak dari desa sebagai pusat kekuatan bangsa.
Program-program seperti Instruksi Presiden (Inpres) Desa, Inpres Desa Tertinggal (IDT), dan Revolusi Hijau menjadi tonggak penting yang mengubah wajah pedesaan Indonesia.
“Soeharto melihat desa bukan sebagai beban pembangunan, melainkan sebagai kekuatan bangsa. Karena itu, ia membangun Indonesia dari desa ke kota, bukan sebaliknya,” ungkap Luis, Selasa (11/11/2025)
Baca Juga : Gelar Pahlawan Nasional Soeharto Dikukuhkan, DPC MKGR Simalungun Gelar Tasyakuran Megah
Data yang diperoleh SPEDA menunjukkan, selama masa pemerintahan Soeharto, lebih dari 60.000 desa mendapat dampak langsung dari program pembangunan, sementara angka kemiskinan nasional menurun dari 60 persen menjadi sekitar 11 persen.
Konsep Desa Mandiri dan Pembangunan Berkelanjutan yang kini digaungkan pemerintah, menurut Luis, merupakan kelanjutan dari visi pembangunan Soeharto.
Arsitek Pemerataan Pendidikan di Desa
Baca Juga : Masyarakat Simalungun Gelar Syukuran Penganugerahan Pahlawan Rodahaim Saragih
Selain pembangunan fisik, Soeharto dinilai sebagai arsitek pemerataan pendidikan nasional.
Melalui Program SD Inpres yang dimulai tahun 1973, lebih dari 60 ribu sekolah dasar dibangun di berbagai pelosok tanah air, terutama di daerah pedesaan dan terpencil.
“Soeharto tidak hanya membangun sekolah, tetapi juga membangun kesadaran belajar di kalangan rakyat kecil,” jelas Luis.
Baca Juga : Faisol Riza Ungkap Mimpi Gus Dur yang Belum Tercapai: Hukum yang Tidak Tajam ke Bawah Tumpul ke Atas
Kebijakan Wajib Belajar 6 Tahun, pendirian SMK Pertanian dan Kelautan, serta penguatan pendidikan non formal melalui PKK, Karang Taruna, dan PKBM, menjadi bukti kuat perhatian Soeharto terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di desa.
Fondasi Awal Digitalisasi Indonesia
Meski hidup di era pra-internet, Soeharto dinilai telah meletakkan dasar bagi transformasi digital Indonesia.
Ia mendirikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1978 serta meluncurkan Satelit Palapa pada 1976, menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki satelit komunikasi sendiri.
“Palapa adalah simbol konektivitas desa dan kota, cikal bakal digitalisasi Indonesia. Soeharto membangun akses komunikasi dari Sabang sampai Merauke, jauh sebelum era internet,” ujar Luis.
Selain itu, pada akhir 1980-an Soeharto juga mendorong komputerisasi lembaga pendidikan dan pemerintahan, serta memperkuat TVRI sebagai media edukasi nasional yang menjadi cikal bakal model pendidikan jarak jauh saat ini.
Pengakuan Moral dan Sejarah
SPEDA menilai sudah selayaknya negara memberikan pengakuan moral dan historis atas jasa besar Soeharto dalam membangun fondasi kemajuan bangsa.
“Soeharto bukan hanya Bapak Pembangunan Nasional, tapi juga Bapak Pembangunan Desa Indonesia yang membuka jalan bagi kemajuan pendidikan dan teknologi di pedesaan,” tegas Luis.
Sebagai bentuk penghargaan, SPEDA akan meluncurkan gerakan nasional bertajuk “Dari Desa untuk Bangsa: Meneladani Soeharto, Membangun Indonesia.”
Gerakan ini diharapkan dapat menghidupkan kembali semangat membangun desa secara berkelanjutan, cerdas, dan digital.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasanya. Kami, generasi muda desa, menilai Soeharto layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional sebagai Bapak Pembangunan Desa Indonesia,” tutup Luis.
(Akb/nusantaraterkini.co)
