Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Ketua Yayasan UTA 45 Mediasi Skorsing Mahasiswa Penolak Gelar Pahlawan Soeharto ​

Ketua Yayasan UTA 45 memediasi skorsing mahasiswa Damar terkait diskusi penolakan gelar pahlawan Soeharto dan membuka peluang pencabutan sanksi.

Mediasi pihak kampus Kampus UTA 45 dengan Mahasiswa yang diskors karena gelar diskusi menolak gelar pahlawan Soeharto. (Foto: Dok Pribadi)
Mediasi pihak kampus Kampus UTA 45 dengan Mahasiswa yang diskors karena gelar diskusi menolak gelar pahlawan Soeharto. (Foto: Dok Pribadi)
A A

Nusantaraterkini.co,JAKARTA – Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 (UTA ’45) Jakarta, , turun tangan langsung untuk menengahi polemik skorsing yang dijatuhkan kepada mahasiswa Pamungkas.

Damar sebelumnya menerima sanksi akademik karena menyelenggarakan diskusi yang menolak rencana pemberian kepada tanpa mendapatkan izin resmi dari pihak kampus dan melibatkan kehadiran pihak luar.
​
Rudyono Darsono memanggil seluruh pihak terkait untuk mendengarkan kronologi dan penjelasan masing-masing. Pertemuan mediasi tersebut dihadiri oleh Damar, Kepala Kemahasiswaan Achmad Rofii, Kepala Keamanan Laode Ahmad Arifudin, serta Dekan Fakultas Ekonomi, Bisnis, dan Ilmu Sosial, Bobby Reza.

Baca Juga : Gelar Pahlawan Nasional Soeharto Dikukuhkan, DPC MKGR Simalungun Gelar Tasyakuran Megah 

“Kita kasih kesempatan semua pihak memberikan penjelasan,” ujar Rudy dalam keterangan resminya, Jumat (21/11/2025).

​Dalam kesempatan tersebut, Damar menyampaikan protes keras atas sanksi yang diterimanya, meskipun ia tetap menyampaikan permohonan maaf karena lalai menyelenggarakan kegiatan tanpa izin kampus. Ia bersikukuh bahwa diskusi yang ia selenggarakan bukanlah kegiatan politik praktis.
​
Namun, pihak kampus memiliki pandangan berbeda. Dekan Bobby Reza menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dinilai bernuansa politik praktis dan tidak berkaitan dengan agenda akademik institusi. Lebih lanjut, acara itu memicu respons serius dari aparat kepolisian setelah undangan kegiatan tersebut beredar luas di tengah masyarakat.

​Dilansir dari , Dekan Bobby Reza mengungkapkan adanya kesimpulan dari pihak kepolisian yang menyebut kegiatan tersebut terafiliasi dengan PDIP, didasarkan pada sejarah kampus serta warna almamater yang identik dengan warna merah. Keterlibatan polisi cukup intens, di mana aparat dari Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya, hingga Mabes Polri sempat mendatangi kampus.

Baca Juga : Prabowo Anugerahkan 10 Gelar Pahlawan Nasional 2025, Ini Daftarnya 

Kepala Kemahasiswaan Achmad Rofii bahkan melihat polisi memotret sejumlah titik di kawasan kampus. Polisi mengaku kehadiran mereka bertujuan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dari pihak-pihak yang menolak diskusi tersebut, dan disebut-sebut telah berencana memeriksa Damar.

​Menyikapi eskalasi ini, Rudyono Darsono menjelaskan keterlibatannya sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk melindungi seluruh mahasiswa. Ia juga menyatakan pemahaman terhadap alasan pihak keamanan kampus mengambil langkah pencegahan, terutama setelah adanya intervensi dari kepolisian.

“Kami sebagai ayah ingin melindungi semua mahasiswa. Keamanan kampus harus dijaga,” tegas Rudy.

​Ia membuka peluang bahwa sanksi skorsing dapat dicabut, namun hal ini bergantung pada hasil pembicaraan lanjutan antara Damar dan pihak Dekanat. Rudy berpesan agar insiden yang terjadi ini dapat dijadikan pelajaran bersama. "Tak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan," pungkasnya.

(*/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru