Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.920 per Dolar AS, Pasar Cermati Data Inflasi

Rupiah melemah 0,22% ke Rp17.920 per dolar AS. Pasar mencermati data inflasi September, harga minyak, dan arah suku bunga The Fed.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co,ย JAKARTA โ€“ Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring pasar mencermati sejumlah sentimen ekonomi domestik dan global.

Mengacu data Refinitiv, rupiah pada pembukaan perdagangan Senin (28/9/2026) turun 0,22% ke level Rp17.920 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah pada perdagangan Jumat (25/9/2026) sempat menguat tipis 0,03% dan berakhir di posisi Rp17.880 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mencerminkan pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia ditutup melemah 0,31% pada Jumat lalu. DXY berada di level 100,971.

Pergerakan rupiah sepanjang pekan ini diperkirakan masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada data inflasi Indonesia September yang dijadwalkan dirilis pada Kamis (1/10/2026).

Data tersebut akan mencakup inflasi tahunan, inflasi inti, serta inflasi bulanan. Angka-angka tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar dalam membaca arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Pada Agustus 2026, inflasi tahunan Indonesia mencapai 3,19%, meningkat dibandingkan 2,28% pada Juli. Angka tersebut juga berada di atas proyeksi pasar yang sebelumnya berada di kisaran 3,13%.

Inflasi inti turut mengalami peningkatan menjadi 2,92%, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Maret 2023. Sementara itu, inflasi bulanan pada Agustus tercatat 0,21%.

Data inflasi September akan menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan tekanan harga sekaligus ruang bagi BI dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Apabila inflasi masih berada dalam sasaran BI sebesar 1,5%-3,5%, ruang untuk mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif tetap terbuka. Namun, peningkatan inflasi inti dapat membuat ruang pelonggaran kebijakan menjadi lebih terbatas.

Sentimen Dolar AS dan Harga Minyak

Dari pasar global, arah dolar AS masih menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan pergerakan rupiah. Mengutip Reuters, dolar AS melemah pada perdagangan Jumat setelah harga minyak dunia turun lebih dari 2%.

Pelemahan tersebut juga terjadi setelah dolar AS mencatat penguatan selama empat sesi berturut-turut, sehingga sebagian pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan.

Penurunan harga minyak dipengaruhi meningkatnya harapan terhadap kemungkinan tercapainya gencatan senjata antara AS dan Iran. Perkembangan tersebut untuk sementara meredakan kekhawatiran pasar mengenai risiko gangguan pasokan energi akibat meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.

Meski terkoreksi, harga minyak masih berada di atas US$100 per barel. Kondisi ini tetap menjadi perhatian karena harga energi yang tinggi dapat memberikan tekanan terhadap inflasi global dan turut memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral.

Sementara itu, DXY masih mencatat kenaikan secara mingguan untuk dua pekan berturut-turut. Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) serta tingginya imbal hasil US Treasury menjadi faktor yang masih memberikan dukungan terhadap dolar AS.

"Dolar tidak benar-benar melemah secara material. Pergerakannya hanya sedang mengambil jeda," kata Eugene Epstein, Kepala Perdagangan dan Produk Terstruktur Moneycorp.

Pasar Pantau Kebijakan The Fed

Perhatian investor berikutnya tertuju pada arah kebijakan The Fed. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober berada di sekitar 66%, meningkat dari sekitar 58% pada pekan sebelumnya.

Ekspektasi tersebut menguat setelah sejumlah pejabat The Fed kembali menyampaikan perhatian terhadap risiko inflasi. Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack menilai inflasi yang bertahan di atas target 2% dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan bank sentral dalam menjaga stabilitas harga.

Ketahanan ekonomi AS juga menjadi faktor yang diperhatikan pasar. Pesanan baru barang modal buatan AS pada Agustus tercatat tumbuh lebih tinggi dari perkiraan. Data bulan sebelumnya pun mengalami revisi naik cukup signifikan.

Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas belanja dunia usaha AS masih relatif kuat. Jika tren tersebut berlanjut, pasar dapat kembali mempertimbangkan kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama.

Dengan demikian, pergerakan rupiah pada awal pekan tidak hanya akan ditentukan oleh sentimen dolar AS, tetapi juga perkembangan inflasi domestik, harga minyak dunia, imbal hasil US Treasury, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait