Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Kembali Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Global Jadi Sorotan

Rupiah kembali melemah ke Rp18.002 per dolar AS. Tekanan global, penguatan dolar, dan fenomena higher for longer menjadi perhatian pasar.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co,ย JAKARTA โ€” Nilai tukar kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Mata uang Garuda kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, di pasar spot pada pukul 09.40 WIB tercatat melemah 24 poin atau 0,13% ke posisi Rp18.002 per dolar AS.

Pelemahan tersebut terjadi ketika pergerakan mata uang utama Asia terhadap dolar AS berlangsung bervariasi. Yen Jepang menguat 0,03%, yuan China naik 0,09%, peso Filipina menguat 0,20%, dan won Korea Selatan bertambah 0,09%.

Di sisi lain, dolar Singapura melemah 0,04%, baht Thailand turun 0,05%, rupee India terkoreksi 0,17%, ringgit Malaysia turun 0,01%, sedangkan dolar Hong Kong menguat tipis 0,01%.

Tekanan terhadap rupiah sebelumnya disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (28/9/2026).

Menurut Destry, pergerakan rupiah saat ini turut dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, perubahan arah aliran modal, serta kondisi fundamental sektor eksternal Indonesia.

Penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil aset di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik aset di negara maju dan pada saat yang sama memengaruhi arus modal menuju negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, pasar juga menghadapi situasi higher for longer, yaitu periode ketika tingkat suku bunga global dipertahankan pada level tinggi dalam waktu yang lebih panjang.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan preferensi investor terhadap aset berdenominasi dolar AS dan aset di negara maju. Dampaknya, negara berkembang seperti Indonesia menghadapi risiko tekanan lebih besar terhadap aliran modal dan nilai tukarnya.

Dengan kembali berada di atas Rp18.000 per dolar AS, pergerakan rupiah menjadi salah satu perhatian pasar pada perdagangan hari ini. Investor akan mencermati perkembangan dolar AS, imbal hasil aset AS, serta arah aliran modal global sebagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah selanjutnya.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait