Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Tertekan, Dolar AS Dekati Level Rp18.000 Hari Ini

Rupiah melemah ke Rp17.929 per dolar AS pada Jumat (25/9/2026), semakin dekat Rp18.000. BI memperkuat stabilisasi nilai tukar di tengah gejolak global.

Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Jumat (25/9/2026). Pelemahan tersebut membuat posisi rupiah semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot pada pukul 09.13 WIB berada di level Rp17.929 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 13 poin atau sekitar 0,07% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia menunjukkan hasil yang beragam terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang tercatat menguat, antara lain yen Jepang 0,26%, dolar Singapura 0,02%, baht Thailand 0,18%, peso Filipina 0,12%, won Korea Selatan 0,36%, serta ringgit Malaysia 0,27%.

Sementara itu, beberapa mata uang Asia lainnya mengalami tekanan. Yuan China melemah 0,03%, rupee India turun 0,23%, sedangkan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01%.

BI Perkuat Stabilisasi Rupiah

Tekanan terhadap rupiah menjadi perhatian Bank Indonesia (BI) di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan gejolak ekonomi global turut meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Karena itu, bank sentral akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah.

BI menyiapkan berbagai instrumen moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Intervensi tersebut dilakukan melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.

Selain intervensi pasar valas, BI juga memperluas insentif transaksi lindung nilai atau hedging. Kebijakan ini ditujukan untuk mendorong masuknya sumber pendanaan dari luar negeri sekaligus memperkuat pasokan valuta asing di pasar domestik.

Cakupan transaksi yang mendapatkan insentif pun diperluas. Jika sebelumnya hanya mencakup investasi portofolio, kini fasilitas tersebut juga diberikan untuk pinjaman luar negeri perbankan dan investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI).

Untuk transaksi swap beli lindung nilai dengan BI, pengurangan premi ditetapkan lebih besar berdasarkan tenor. Pengurangannya mencapai 15% untuk tenor tiga bulan, 20% untuk enam bulan, dan 25% untuk tenor 12 bulan.

Kebijakan tersebut lebih tinggi dibandingkan ketentuan sebelumnya yang memberikan pengurangan premi sebesar 12,5% untuk seluruh tenor.

Langkah BI tersebut diharapkan dapat memperkuat daya tarik transaksi lindung nilai, mendorong aliran modal asing, serta meningkatkan ketersediaan valuta asing di dalam negeri.

Dengan tekanan global yang masih membayangi pasar keuangan, pergerakan rupiah dan kebijakan stabilisasi BI akan menjadi perhatian pelaku pasar sepanjang perdagangan hari ini.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru