Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Menguat di Awal Pekan, Dolar AS Terkoreksi ke Rp16.740

Editor:  hendra
Reporter: Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Nilai tukar rupiah membuka perdagangan awal pekan dengan performa positif usai libur Natal. Pada Senin (29/12/2025), mata uang Garuda tercatat menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring pelemahan greenback di pasar global.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.740 per dolar AS atau terapresiasi sekitar 0,06%. Sebelumnya, pada perdagangan terakhir sebelum libur panjang Natal, Rabu (24/12/2025), rupiah ditutup menguat 0,09% di posisi Rp16.750 per dolar AS.

Sejalan dengan penguatan rupiah, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia tercatat melemah. Pada pukul 09.00 WIB, DXY berada di level 97,970 atau turun 0,06%.

Baca Juga : Rupiah Menguat Tipis di Awal Februari, Bayang-bayang Dolar Masih Membatasi

Pergerakan rupiah hari ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS di pasar global. Hingga awal pekan, dolar AS cenderung bergerak melemah, meskipun data produk domestik bruto (PDB) AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan pertumbuhan kuat sebesar 4,3% secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar.

Data tersebut sempat membuat pelaku pasar memangkas peluang pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral AS (The Fed) sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC berikutnya, dari sebelumnya 20% menjadi 13%. Namun, seiring berjalannya waktu, probabilitas tersebut kembali meningkat ke kisaran 18%, mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati terhadap arah kebijakan moneter AS.

Tekanan terhadap dolar AS juga datang dari perbedaan proyeksi kebijakan moneter global. Pasar memperkirakan The Fed masih berpeluang memangkas suku bunga hingga 50 basis poin pada 2026. Sebaliknya, Bank of Japan (BoJ) justru diproyeksikan akan menaikkan suku bunga tambahan sebesar 25 basis poin pada periode yang sama.

Baca Juga : Rupiah Melemah ke Rp16.803, Dolar AS Menguat di Tengah Sentimen Global dan Isu MSCI

Dari sisi politik, perhatian pasar turut tertuju pada rencana Presiden AS Donald Trump yang akan mengumumkan kandidat Ketua The Fed baru pada awal 2026. Sejumlah media asing menyebut nama Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, sebagai kandidat terkuat. Sosoknya dinilai cenderung dovish, sehingga memicu ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar.

Kondisi tersebut mendorong tekanan lanjutan pada dolar AS dan membuka peluang aliran dana global mengalir ke aset berisiko di negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Sentimen ini menjadi salah satu penopang penguatan rupiah di awal perdagangan pekan ini.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Baca Juga : Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan, Dolar AS Tertekan di Level Rp16.760