Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Kian Perkasa, Dolar AS Melemah ke Rp16.635 di Awal Perdagangan

Rupiah menguat ke Rp16.635 per dolar AS berkat sentimen global dan ekspansi PMI manufaktur Indonesia. Dolar AS melemah, sementara mata uang Asia

Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - kembali menunjukkan ketangguhannya pada pembukaan perdagangan Selasa (2/12/2025). Mengacu data , dibuka menguat di level Rp16.635 per AS, menguat 0,17% dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.663 per dolar.

pagi ini pun beragam. Peso Filipina memimpin penguatan dengan 0,30%, disusul rupiah yang terapresiasi 0,20% dan ringgit Malaysia 0,03%. Sementara sejumlah mata uang lain justru terkoreksi, seperti baht Thailand (-0,14%), won Korea (-0,10%), yen Jepang (-0,09%), serta yuan China (-0,05%).

Di sisi lain, AS stagnan di level 99,41—tidak berubah dari perdagangan sebelumnya—menandakan momentum pelemahan greenback masih berlanjut.

Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menjelaskan penguatan dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik.

Dari faktor eksternal, pasar masih merespons perubahan ekspektasi pelonggaran kebijakan serta mencuatnya nama penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, sebagai kandidat kuat Ketua The Fed berikutnya. Ketidakpastian ini membuat dolar mencatat penurunan mingguan terdalam dalam empat bulan.

“Selain itu, pasar juga menanti rilis data ekonomi AS seperti PMI Manufaktur ISM, sektor jasa, produksi industri, hingga klaim pengangguran,” ujar Ibrahim.

Sementara dari dalam negeri, laporan terbaru S&P Global menunjukkan aktivitas manufaktur Indonesia terus melanjutkan tren ekspansinya. PMI manufaktur November 2025 naik ke level 53,3, lebih tinggi dari Oktober yang berada di 51,2.

Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan output dan pesanan baru, terutama dari pasar domestik. Kebutuhan tenaga kerja dan aktivitas pembelian turut mengalami percepatan. Meski demikian, pesanan ekspor baru tercatat mengalami penurunan.

Sebelumnya, sektor manufaktur sempat berada dalam fase kontraksi selama empat bulan berturut-turut sejak April 2025, bahkan menyentuh titik terendah 46,7. Namun, sejak Agustus, laju ekspansi kembali menguat dan kini bertahan selama empat bulan.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait