Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Nilai tukar dolar Amerika Serikat bergerak fluktuatif di kisaran indeks 99 pada perdagangan Selasa (20/1/2026), setelah mengalami tekanan tajam pada sesi sebelumnya. Sentimen negatif muncul seiring meningkatnya ketegangan politik antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, yang turut menggerus kepercayaan investor terhadap aset berdenominasi dolar.
Mengutip Trading Economics, ketidakpastian pasar dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana pembelian Greenland. Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif impor sebesar 10% terhadap delapan negara Eropa yang menolak proposal tersebut mulai 1 Februari, dan berpotensi meningkat hingga 25% pada 1 Juni apabila tidak tercapai kesepakatan.
Langkah itu menuai kecaman keras dari para pemimpin Eropa. Mereka menilai ancaman tarif tersebut sebagai bentuk tekanan politik yang tidak dapat diterima, sembari mulai mengkaji langkah balasan jika eskalasi berlanjut.
Baca Juga : Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan, Dolar AS Tertekan di Level Rp16.760
Sejumlah analis menilai situasi ini berisiko besar bagi pasar keuangan global. Pasalnya, Eropa tercatat memegang aset finansial AS—baik obligasi maupun saham—senilai sekitar US$10 triliun, termasuk porsi besar dari sektor publik. Kepemilikan tersebut dinilai dapat menjadi alat tawar dalam konflik dagang yang kian memanas.
Di sisi lain, pelaku pasar kini menanti rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat sepanjang pekan ini, seperti indeks harga PCE, revisi PDB kuartal III, PMI S&P, serta survei sentimen konsumen Universitas Michigan, yang akan menentukan arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Rupiah Tertekan, Nyaris Sentuh Rp17.000 per Dolar AS
Baca Juga : Rupiah Menguat ke Rp16.846 per Dolar AS, Didukung Sentimen Global Positif
Tekanan global turut berdampak pada nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Senin (19/1/2026), rupiah sempat bergerak mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat berada di posisi Rp16.956 per dolar AS pada pukul 14.34 WIB, setelah sebelumnya menyentuh level terlemah harian di Rp16.960. Sejak pembukaan pasar, rupiah sudah melemah 19 poin atau sekitar 0,11% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor domestik dan eksternal. Dari dalam negeri, defisit anggaran Indonesia yang mendekati batas maksimal 3% menjadi sorotan utama investor.
Baca Juga : Rupiah Tertekan di Awal Pekan, Dolar AS Menguat Jelang Rilis Data Ekonomi
“Ketika defisit mendekati 3 persen, pasar menilai ada risiko pada sisi fiskal. Dalam kondisi seperti ini, intervensi Bank Indonesia saja tidak cukup kuat menahan tekanan,” ujar Ibrahim.
Dari eksternal, ketidakpastian global akibat perang dagang, kebijakan tarif AS, konflik geopolitik di Iran, serta isu Greenland memperburuk persepsi risiko. Situasi politik internal Amerika Serikat, termasuk pemanggilan Ketua The Fed Jerome Powell oleh Jaksa Agung, turut menambah sentimen negatif.
Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak volatil di kisaran Rp16.500–Rp17.200 per dolar AS sepanjang kuartal pertama 2026. Ia bahkan memperkirakan rupiah berpotensi menembus Rp17.000 dalam waktu dekat, seiring pasar menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
Baca Juga : Dolar AS Bangkit Tipis Usai Tertekan Mata Uang Global
Sementara itu, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai eskalasi geopolitik global justru mendorong penguatan dolar AS sebagai aset aman, yang otomatis memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor global, Ariston juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih belum mencapai level ideal di atas 6%, meski pemerintah dan BI telah menggulirkan berbagai stimulus.
(Dra/nusantaraterkini.co)
