Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan kian mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini dinilai erat kaitannya dengan terbatasnya pasokan dolar di pasar serta ekspektasi pelaku pasar terhadap pergerakan nilai tukar ke depan.
Prasasti Center for Policy Studies menilai, kelangkaan dolar menjadi faktor dominan yang mendorong pelemahan rupiah. Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menjelaskan bahwa dolar kini berperilaku layaknya komoditas yang sangat bergantung pada ketersediaan pasokan.
“Dolar bisa dianalogikan seperti barang dagangan. Ketika pasokannya melimpah, nilainya turun. Namun saat jumlahnya terbatas, harganya naik. Kondisi inilah yang membuat rupiah tertekan,” ujar Piter, Sabtu (24/1/2026).
Baca Juga : Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan, Bergerak Dekati Rp 17.000 per Dolar AS
Menurutnya, minimnya suplai dolar bukan hanya disebabkan oleh faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh sentimen global dan perilaku investor yang cenderung menahan aset dolar AS. Semakin banyak pelaku pasar memilih menyimpan dolar, semakin ketat pasokan di pasar valuta asing.
“Ekspektasi negatif membuat pemilik dolar enggan melepasnya. Akibatnya, dolar menjadi semakin langka dan rupiah terus terdepresiasi,” jelasnya.
Intervensi Bank Indonesia Dinilai Mendesak
Baca Juga : IHSG Hari Ini Rabu 21 Januari 2026 Berpotensi Lanjut Menguat, Ini Saham Rekomendasi Analis
Piter menegaskan, peran Bank Indonesia (BI) sangat krusial untuk meredam tekanan nilai tukar. Sebagai otoritas moneter, BI perlu melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga keseimbangan pasokan dolar.
Langkah ini dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan investor. Dengan kehadiran BI di pasar, diharapkan pelaku usaha dan investor tidak lagi menahan dolar secara berlebihan, sehingga suplai kembali mengalir dan tekanan terhadap rupiah dapat dikendalikan.
“Selama ekspektasi pasar belum berubah, tekanan akan terus berlanjut. Intervensi BI diperlukan untuk mengelola persepsi dan menstabilkan nilai tukar,” pungkasnya.
Baca Juga : Ketegangan AS–Eropa Memuncak, Arah Dolar AS dan Rupiah Jadi Perhatian Pasar
Prasasti menekankan, stabilitas rupiah ke depan sangat ditentukan oleh efektivitas pengelolaan pasokan dolar serta kemampuan otoritas moneter dalam menjaga kepercayaan pasar.
(Dra/nusantaraterkini.co).
