Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih cenderung tertahan di pasar offshore. Aktivitas di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) menunjukkan pelaku pasar memilih bersikap wait and see, meski tekanan terhadap dolar AS secara global mulai mereda.
Pada perdagangan Selasa (10/2/2026), rupiah NDF berada di level Rp16.803 per dolar AS, melemah tipis 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Sehari sebelumnya, rupiah sempat mencatat penguatan cukup signifikan sebesar 0,37 persen, dari Rp16.876 per dolar AS menjadi Rp16.802 per dolar AS.
Dari faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah sejatinya mulai berkurang. Indeks dolar AS melemah dalam dua hari terakhir seiring meningkatnya keyakinan pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) semakin mendekati fase pelonggaran kebijakan moneter. Fokus investor global kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan dan inflasi AS yang akan menjadi penentu arah suku bunga ke depan.
Baca Juga : Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.881 per Dolar AS, Tertekan Pergerakan Mata Uang Asia
Namun, pelemahan dolar AS tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi penguatan mata uang negara berkembang. Dalam dua hari terakhir, pasar global cenderung mengambil posisi defensif sambil menunggu kepastian dari data ekonomi AS.
Pergerakan mata uang Asia pun terpantau mayoritas berada di zona merah. Yen Jepang melemah 0,19 persen, dolar Singapura turun 0,05 persen, won Korea Selatan melemah 0,04 persen, dan yuan offshore China terkoreksi 0,03 persen. Di tengah tekanan tersebut, hanya ringgit Malaysia yang mampu mencatatkan penguatan sekitar 0,13 persen.
Tekanan terhadap rupiah semakin terasa dari sisi domestik, khususnya pasar obligasi. Aksi jual di pasar surat utang meningkat menyusul penurunan outlook kredit Indonesia oleh Moody’s Investors Service dari stabil menjadi negatif. Sentimen ini diperparah dengan kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun ke kisaran 4,23 persen.
Baca Juga : Menjelang Rilis PDB, Rupiah Terkoreksi ke Rp16.807 per Dolar AS
Data Bloomberg menunjukkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) mengalami kenaikan di hampir seluruh tenor. Yield tenor 1 tahun naik 8,6 basis poin ke level 5,07 persen, sementara tenor 2 dan 3 tahun masing-masing menembus 5,16 persen dan 5,51 persen. Yield tenor 10 tahun juga meningkat sekitar 3 basis poin menjadi 6,46 persen.
Kenaikan imbal hasil turut terjadi pada tenor panjang, dengan yield tenor 20 tahun mencapai 6,71 persen dan tenor 30–40 tahun mendekati 6,78 persen. Kondisi ini menandakan tekanan yang masih kuat di pasar obligasi domestik.
Rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang meningkat belum cukup kuat untuk memulihkan minat investor terhadap aset berdenominasi rupiah. Pelaku pasar masih menanti langkah kebijakan lanjutan dari otoritas, terutama setelah Moody’s menekankan pentingnya konsistensi kebijakan, komunikasi publik, serta koordinasi antar lembaga pemerintah.
Baca Juga : Rupiah Menguat ke Rp16.846 per Dolar AS, Didukung Sentimen Global Positif
Sentimen negatif juga diperkuat oleh penurunan outlook sejumlah BUMN dan lembaga keuangan, serta terbaru lima bank besar nasional yang kini berstatus outlook negatif. Dengan kombinasi tekanan eksternal dan domestik tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan terbatas dalam kisaran Rp16.800–Rp16.950 per dolar AS dalam waktu dekat.
(Dra/nusantaraterkini.co).
