Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rabies: Penyakit Mematikan yang Masih Bisa Dicegah

Editor:  hendra
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Rabies: Penyakit Mematikan yang Masih Bisa Dicegah. (Foto: ilustrasi).

nusantaraterkini.co, MEDAN - Rabies adalah penyakit zoonosis berbahaya yang disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus. Penyakit ini menyerang hewan berdarah panas, termasuk manusia, dan umumnya menular melalui gigitan hewan yang terinfeksi. 

Kelelawar dikenal sebagai salah satu reservoir utamanya, meski anjing, kucing, rubah, rakun, dan serigala juga dapat menjadi sumber penularan. 

Virus rabies bekerja dengan menyerang sistem saraf, menimbulkan gangguan neurologis berat yang pada akhirnya hampir selalu berujung kematian jika tidak segera ditangani. Meski begitu, rabies sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi.

Baca Juga : Diserang Anjing Peliharaan Warga yang Dibiarkan Bebas Berkeliaran, 2 Pelajar di Nisel Luka-luka dan Terpaksa Disuntik Anti Rabies

Memahami Rabies Lebih Jauh

Rabies telah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Begitu masuk ke tubuh melalui gigitan, virus akan berkembang biak di otot di sekitar luka sebelum menyebar ke sistem saraf pusat. Di tahap inilah kerusakan parah mulai terjadi.

Manusia biasanya terinfeksi akibat gigitan hewan pembawa virus. Penularan juga bisa terjadi bila air liur hewan terinfeksi masuk ke luka terbuka atau selaput lendir.

Baca Juga : Kasus Rabies Merebak di NTT, Pemerintah Siapkan Strategi Penanganan Darurat

Gejala dan Perjalanan Penyakit

Masa inkubasi rabies bervariasi, mulai dari beberapa minggu hingga beberapa bulan. Pada tahap awal, gejalanya sering mirip flu, demam, sakit kepala, dan lemas. Namun seiring waktu, gejala khas mulai muncul, antara lain:

Tahap Prodromal: Demam, nyeri otot, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, rasa cemas berlebihan, depresi, dan sulit tidur.

Baca Juga : Virus HMPV Masuk Indonesia, MPR: Utamakan Keselamatan Masyarakat

Tahap Neurologis Akut: Halusinasi, kebingungan, hiperaktif, hidrofobia (takut air), kesulitan menelan, kejang, kelumpuhan, hingga koma.

Setelah gejala neurologis terlihat, peluang untuk sembuh nyaris tidak ada dan berujung kematian.

Pencegahan dan Pengendalian

Baca Juga : Hadapi Wabah HMPV dengan Tenang dan Tetap Waspada

Strategi utama mencegah rabies adalah vaksinasi dan pengendalian populasi hewan penular. Pemberian vaksin rabies pada hewan peliharaan secara rutin, serta program vaksinasi massal pada hewan liar, terbukti menurunkan angka kasus secara signifikan di berbagai negara.

Pengendalian rabies juga dilakukan dengan membatasi interaksi manusia dengan hewan liar serta menekan populasi hewan yang terinfeksi.

Penanganan Setelah Gigitan

Baca Juga : OTK Racuni Anjing Terekam CCTV di Tanjung Gusta, Pelaku Beraksi Mengendarai Motor

Jika digigit hewan yang dicurigai membawa rabies, berikut cara penanganan awal yang harus dilakukan:

1. Segera cuci luka menggunakan air mengalir dan sabun selama minimal 15 menit.

2. Oleskan antiseptik untuk membunuh virus yang mungkin masuk.

Baca Juga : Buat Konten Anjing Bisa Mengaji, TikToker Galih Loss Ditangkap : Saya Menyesali Perbuatan, Janji Tak Akan Ulangi

3. Segera kunjungi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksinasi pasca pajanan (Post Exposure Prophylaxis / PEP), yang terdiri dari rangkaian suntikan selama beberapa minggu.

PEP sangat efektif jika diberikan segera setelah terpapar.

Segera ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR).

Amati hewan yang menggigit dengan mengurung atau mengikatnya selama 14 hari.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi sahabat Nuter (sebutan bagi pembaca setia nusantaraterkini.co). Jangan lupa selalu tetap waspada dan jaga hewan pelihara sahabat agar terhindar daro rabies.

(Dra/nusantaraterkini.co).