Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Prabowo-Megawati Diharapkan Menjawab Kebutuhan Negara Lima Tahun ke Depan

Editor:  Feriansyah Nasution
Reporter: Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Selamat Ginting. (Foto: @sgintingoffical)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Kabar soal rencana pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kembali muncul selama masa Idulfitri 1446 Hijriah.

Isu tersebut terus timbul tenggelam sejak Prabowo memenangkan Pemilu 2024 dan dilantik menjadi presiden pada Oktober lalu.

Menariknya rencana pertemuan tersebut memunculkan gambaran kentalnya kepentingan politik di baliknya. Bagaimana dampak politik jika keduanya bertemu? Siapa yang paling diuntungkan?

Baca Juga : DPR Diminta Pilih Calon Lima Pimpinan KPK Berkualitas

Pengamat Politik Universitas Nasional (UNAS) Selamat Ginting menilai, pertemuan Megawati dan Prabowo harapannya justru memberikan keuntungan kepada negara; bukan hanya pemerintah atau pun PDIP. Apa pun hasil pertemuan tersebut, kata dia, sikap politik kedua pihak diharapkan mampu menjawab kebutuhan negara hingga lima tahun ke depan.

Meski demikian, kata dia, Prabowo dan Partai Gerindra memang butuh kepastian soal posisi Politik PDIP pada pemerintah ini. Selain untuk melanggengkan sejumlah program strategis, menurut dia, Prabowo perlu mempunyai rencana cadangan yang kuat untuk pemerintahannya.

Hal ini merujuk pada kondisi relasi politiknya dengan Jokowi. Prabowo dan Gerindra butuh PDIP jika suatu saat pecah kongsi dengan Jokowi.

Baca Juga : MK Larang Jaksa Agung dari Parpol, PKS: Penegak Hukum Harus Bebas Kepentingan Politik

Di sisi lain, menurut dia, Megawati dan PDIP saat ini juga membutuhkan kekuatan Prabowo dan pemerintah. Hal ini terutama saat PDIP akan menggelar kongres pada April atau Mei mendatang. Sejumlah isu menyebut ada upaya pengambilalihan kursi kepemimpinan PDIP dari Megawati. Isu tersebut pun kerap dikaitkan dengan sosok Jokowi yang ingin menggantikan Megawati di partai tersebut.

"Kalau PDIP dekat dengan Presiden Prabowo maka bargaining posisinya terhadap Jokowi juga semakin kuat menjelang kongres," ujar Ginting, Selasa (8/4/2025).

"Karena Jokowi bagaimana pun juga masih memiliki kekuatan terutama finansial dan jaringan yang terbangun selama 10 tahun," katanya.

Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menilai, Presiden Prabowo dan pemerintahannya menjadi pihak yang paling diuntungkan jika pertemuannya dengan pimpinan PDIP bisa terlaksana. Pertemuan tersebut bisa menjadi sinyal politik bahkan kondisi faktual jika berujung pada bergabungnya PDIP pada koalisi pemerintah.

"Rencana pertemuan tersebut sudah lama diwacanakan, namun belum juga terlaksana. Tentu jika pertemuan nanti jadi terlaksana, akan memberikan dampak yang positif bagi Prabowo dan pemerintah, apa lagi bila bergabung dalam pemerintahan," kata dia.

Hal berbeda, kata dia, bagi Megawati dan PDIP. Pertemuan dengan Prabowo belum tentu selalu membawa efek politik positif kepada partai berlambang kepala banteng tersebut.

Hal ini merujuk pada posisi politik para kader, pendukung, dan loyalis PDIP. Dia menilai, kader dan relawan PDIP telah berjuang keras melawan kekuatan Prabowo dan koalisi pemerintah pada Pemilu dan Pilkada 2024. Hal ini masih menyisakan sikap untuk tetap berseberangan dengan pemerintahan Prabowo.

Pertemuan Megawati dan prabowo, kata Romli, justru bisa menjadi peristiwa mengecewakan bagi sejumlah loyalis PDIP. Bahkan, dia memprediksi elektabilitas atau dukungan masyarakat kepada PDIP bisa menurun usai pertemuan terebut.

"Bagi PDIP tentu bisa positif, bisa juga negatif, terutama terkait dg dampak elektoral," ujar dia. "Ini akan berdampak pada dukungan elektoral yang akan menggerus PDIP." tegasnya.

Tunggu Waktu

Sementara itu, Juru Bicara PDIP Ahmad Basarah mengatakan, pertemuan Megawati dan Prabowo tinggal menunggu waktu.

Hal itu disampaikan Basarah saat menanggapi kedatangan putra Prabowo, Didit Hadiprasetyo, ke kediaman Megawati.

“Dan saya kira silaturahmi antara Ibu Mega dan Pak Prabowo itu hanya tinggal menunggu waktu saja,” ujar Basarah.

Untuk diketahui, sejatinya wacana pertemuan Megawati dan Prabowo sudah diisukan sejak pertengahan 2024.

Wacana itu kemudian kembali menyeruak sebelum pelantikan presiden pada 20 Oktober 2024.

Namun, hingga kini tak ada kepastian dari rencana pertemuan tersebut.

Baik dari PDIP maupun Gerindra kerapkali hanya menyebut bahwa pertemuan keduanya akan segera dilakukan, tapi tak kunjung terealisasi.  

Terlepas dari itu, PDIP maupun Gerindra sama-sama mengklaim hubungan Megawati dan Prabowo baik.

Sebelumnya, Ketua Haria Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengonfirmasi kematangan persiapan pertemuan Prabowo-Megawati sudah menjadi pembicaraan serius para elit PDI Perjuangan dan Partai Gerindra.

"Sudah ada obrolan agar pertemuan kedua tokoh segera terlaksana," kata Dasco.

Menurut dia, elit kedua partai bertemu saat halalbihalal di kediaman Ketua MPR, Ahmad Muzani.

Namun, Dasco belum bisa memastikan waktu dan lokasi pertemuan Presiden Prabowo dengan mantan Presiden Megawati. "Yang pasti tujuannya untuk silaturahmi, mempererat hubungan antara keduanya," ucapnya.

Diketahui, putra Presiden Prabowo yakni Ragowo Hediprasetyo atau Didit sudah lebih dahulu datang ke kediaman Megawati. "Kunjungan itu untuk menjaga silaturahmi dalam rangka Lebaran," kata Dasco.

(cw1/nusantaraterkini.co)