Perkuat Sistem Pangan Berkelanjutan, Indonesia dan FAO Luncurkan Rencana Kerja Sama 2026–2030
Indonesia dan FAO meluncurkan CPF 2026–2030 untuk memperkuat ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan, konservasi, dan adaptasi perubahan iklim.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA-Pemerintah Indonesia bersama Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) meresmikan Kerangka Kerja Program Negara (Country Programming Framework/CPF) periode 2026–2030. Kemitraan strategis lima tahun ini dirancang untuk mentransformasi sistem pertanian dan pangan di Indonesia agar lebih tahan iklim, inklusif, serta ramah lingkungan.
Dalam periode 2026–2030, fokus kerja sama akan mencakup tiga pilar utama: transformasi sistem pangan yang inklusif, konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya alam, serta penguatan sistem adaptasi risiko berbasis pendekatan One Health.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo AA Teguh Sambodo, menegaskan, CPF selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
"Secara umum, CPF 2026-2030 mencakup dukungan FAO dalam seluruh aspek kunci untuk mentransformasi sistem pertanian-pangan kita, memajukan ketahanan iklim, serta adaptasi risiko yang akan memperkuat fondasi kita dalam jangka panjang," ujar Teguh di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi berharap kolaborasi ini dapat memicu pertukaran pengetahuan dua arah melalui skema Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular.
Sementara itu, Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menggarisbawahi pentingnya pendekatan lintas sektor mengingat tingginya estimasi biaya tersembunyi (hidden costs) di sektor pangan dan kesehatan yang diperkirakan mencapai USD 319 miliar.
"FAO tetap teguh pada komitmennya untuk mendukung Indonesia dalam mempercepat perubahan transformatif pada sistem pangan-pertanian, dengan tujuan tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan dan gizi, tetapi juga kesehatan lingkungan," kata Rajendra.
Pelaksanaan program CPF 2026–2030 diperkirakan membutuhkan alokasi pendanaan sebesar USD 95 juta. Pemerintah dan FAO mendorong skema blended finance serta keterlibatan sektor swasta untuk mengoptimalkan akselerasi program di tingkat nasional.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KOTA MEDANTerciduk Ngopi Saat Jam Dinas, Dua ASN Pemko Medan Diperiksa Inspektorat
Herman Saleh Harahap·45 menit yang lalu -
NEWSPanglima TNI Ziarah ke Makam Soeharto dan Jenderal Soedirman
Herman Saleh Harahap·58 menit yang lalu -
EKONOMIDugaan Tying LPG, PT Hibarnas Jaya Ajukan Perubahan Perilaku ke KPPU
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
PENDIDIKANPertukaran Pelajar, Rico Waas Lepas 10 Pelajar ke Ipoh
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
VIRALViral, Pria Diduga Kepala SPPG di Tebingtinggi Kepergok Istri Sah Dugem Bareng Selingkuhan Berujung Pelaporan
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NASIONALAnggota DPR Desak Evaluasi Sistem Keselamatan Pelayaran
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
-
KRIMINALBawa 44 Bungkus Sabu dari Aceh, Dua Pria Ditangkap di Besitang
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NASIONALTinjau API Banyuwangi, Wamenaker Minta Peserta MagangHub Asah Kompetensi
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
PERISTIWAPembangunan Tong Pengolahan Emas di Desa Simalagi Madina Telan Korban Jiwa
Rozie Winata·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan