Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Pergerakan IHSG Terkoreksi Sebesar 1,05% Dalam Sepekan

Editor:  Team
Reporter: wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau setelah melemah dua hari berturut-turut. IHSG ditutup menguat 24,27 poin atau 0,34% ke level 7.088,86 pada perdagangan Jumat (10/1).(sumber foto: kontan)

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan akhir pekan ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau setelah melemah dua hari berturut-turut. IHSG ditutup menguat 24,27 poin atau 0,34% ke level 7.088,86 pada perdagangan Jumat (10/1).  Namun, dalam sepekan pergerakan IHSG terkoreksi sebesar 1,05%.

Menurut Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan ada beberapa sentimen yang memengaruhi pergerakan IHSG dalam sepekan.

Pertama, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cenderung tertekan diperkirakan sebagai respons dari pelaku pasar yang memilih bersikap wait and see di tengah ekspektasi risalah bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserves (The Fed) yang mengindikasikan perlambatan dalam pemangkasan suku bunga.

Baca Juga : IHSG Menguat 55,57 Poin Bertengger di Level 7.909,63

BACA: IHSG Menguat Naik 39,71 Poin ke Level 7.104,29 di Akhir Perdagangan Sesi I

Kedua, rilis data JOLTS Job Openings menunjukkan adanya peningkatan jumlah pekerjaan. Namun, pelaku pasar juga masih menantikan data Non-Farm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis pekan ini.

"Ketiga, data PMI China yang berada di atas level 50 menunjukkan adanya ekspansi ekonomi, sementara inflasi Desember 2024 di China tercatat menurun menjadi 0,1% YoY dari sebelumnya 0,2% YoY," kata Hendra.

Baca Juga : Analis Pasar: IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan Menguji Level 7.680 di Perdagangan Selasa (12/8/2025)

BACA: IHSG Menguat 15,84 Poin ke Level 7.094,25 di Perdagangan Kamis (9/1/2025)

Untuk perdagangan Senin (13/1), Herditya memperkirakan pergerakan IHSG masih cenderung volatile dan sideways dengan area support berada di 7.029 dan resistance di 7.129. 

Herditya memproyeksikan perkirakan pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, pergerakan harga komoditas seperti minyak mentah dan emas serta sentimen dari investor yang menanti rilis data inflasi AS dan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. 

Baca Juga : IHSG Masih Tertekan Sentimen MSCI, Simak Strategi dan Rekomendasi Saham Senin 2 Februari 2026

BACA: IHSG Terkoreksi Lebih Dari 1% Duduk Ke Level 7.080,474 di Perdagangan Senin (6/1/2025)

Sementara itu, Founder Stocknow.id, Hendra Wardana melihat pelemahan IHSG dalam sepekan terakhir terjadi di tengah minimnya sentimen positif yang mampu menopang pasar. 

"Kebijakan moneter The Fed menjadi faktor eksternal utama yang mempengaruhi pergerakan IHSG," ujar Hendra. 

Baca Juga : Ketidakselarasan dengan Prabowonomics Dinilai Jadi Pemicu Eksodus Massal Petinggi OJK dan BEI

Beberapa pejabat The Fed, seperti Susan Collins dan Michelle Bowman mengindikasikan bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama karena inflasi yang masih berada di atas target. 

BACA: IHSG Diramalkan Bergerak Sideways di Perdagangan Senin (6/1/2025)

Kebijakan yang hati-hati ini menimbulkan ketidakpastian bagi investor, sehingga IHSG cenderung tertekan sepanjang pekan.

Baca Juga : Analis Pasar: IHSG Diperkirakan Akan Melanjutkan Ppenguatan di Awal Pekan Senin (9/12/2024)

Untuk proyeksi IHSG pada Senin, (13/1), Hendra memprediksi IHSG akan bergerak sideways dengan kecenderungan menguat pada support di level 7.029 dan resistance di 7.197. 

Menurut Hendra, sentimen dari kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi serta kurangnya katalis positif dari dalam negeri, seperti pembatalan PPN 12% membuat pergerakan IHSG cenderung terbatas.

Namun, adanya potensi pemulihan ekonomi global dan stabilitas inflasi di dalam negeri dapat memberikan sedikit dorongan positif bagi pasar. Investor akan cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu data dan kebijakan baru yang mungkin mempengaruhi pasar lebih lanjut.

Baca Juga : IHSG Melaju 0,95% ke Level 7.382,78 Selama Sepekan Ditopang Rilis Sejumlah Data Ekonomi Amerika Serikat

Hendra menyarankan untuk buy saham INDF dan ANTM di target harga masing-masing Rp 8.050 dan Rp 1.540 per saham. Selain itu, ia juga menjagokan saham ACES dan SCMA pada target harga masing-masing di level Rp 795 dan Rp 173 per saham.

Di sisi lain, Herditya merekomendasikan untuk mencermati saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) di target harga Rp 134-Rp 141, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dengan target harga Rp 2.780-Rp 2.840, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada target harga Rp 4.480-Rp 4.530.(kontan)