nusantaraterkini.co, JAKARTA - Ekonom dari Universitas Andalas (Unan) Syafruddin Karimi menilai pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati (SMI) ke Purbaya Yudhi Sadewa membawa pesan penting bagi pasar modal, khususnya terkait sinyal kemandirian dalam pengambilan kebijakan.
Menurutnya, investor tidak hanya memperhatikan aspek kedekatan personal antara menteri dan Presiden, tetapi lebih mengedepankan konsistensi kebijakan, kredibilitas fiskal, serta kejelasan arah komunikasi pemerintah.
"Jika Purbaya mampu menjaga keseimbangan antara kedekatan politik dan integritas profesional, pasar modal akan merespons positif," katanya, Selasa (9/9/2025).
Baca Juga : Ekonom Dorong RUU Perekonomian Nasional Buat Kemakmuran Rakyat
Syakir sapaan akrab Syafruddin Karimi menambahkan, hal yang paling dicari oleh pasar bukan semata-mata siapa yang menjabat sebagai menteri, melainkan apakah kebijakan yang diterapkan mampu memberikan kepastian, konsistensi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Sebab yang paling dicari pasar bukan sekadar siapa yang duduk di kursi menteri, melainkan apakah kebijakan yang ditempuh memberikan kepastian, konsistensi, dan arah pertumbuhan yang berkelanjutan," tuturnya.
Baca Juga : Tarif AS untuk RI Turun 19%, Ekonom: Kebijakan Fiskal & Moneter Tanah Air Tertekan
Pasar Wait and See
Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P Sasmita menilai bahwa meskipun profil Purbaya Yudhi Sadewa belum sekuat Sri Mulyani Indrawati di mata pasar, penunjukannya sebagai Menteri Keuangan tetap akan disambut positif oleh pelaku pasar keuangan.
"Pertama, saya kira Purbaya, sekalipun belum sekuat SMI profilenya di pasar, akan tetap disambut positif oleh pasar. Karena beliau bukanlah orang baru di dunia keuangan, baik perbankan maupun non perbankan," ujarnya.
Baca Juga : Pakar Politik Nilai Hari Pertama Kampanye TKN Prabowo-Gibran Adalah Tindakan Konkret
Ronny juga menilai bahwa penunjukan Purbaya mencerminkan pertimbangan matang dari Presiden Prabowo Subianto, karena selain dianggap mampu mendukung kebijakan fiskal yang relatif agresif, dan juga dinilai mampu untuk mengedepankan keamanan makroprudensial perekonomian nasional.
"Karena memiliki latar perbankan di LPS dan pernah juga di institusi keuangan non perbankan seperti Danareksa," tambahnya.
Ia menambahkan, meskipun terjadi pergantian dari Sri Mulyani ke Purbaya, arah kebijakan makrofiskal diperkirakan tidak akan berubah signifikan.
Menurutnya Purbaya akan tetap melanjutkan kebijakan utama Sri Mulyani dalam menopang program-program prioritas pemerintah, namun tetap dalam batas fiskal yang aman.
"Artinya, Purbaya akan tetap menjaga defisit berada di bawah 3 persen, meskipun berkemungkinan akan mepet ke angka 3 persen jelang akhir tahun, karena kebutuhan untuk belanja pembiayaan program-program unggulan Prabowo," jelasnya.
Ronny memperkirakan bahwa pasar akan bersikap wait and see, namun tidak akan bereaksi secara berlebihan terhadap pergantian ini. Pasalnya, Purbaya dinilai cukup predictable dari sisi kebijakan dan tidak terlalu jauh berbeda dengan Sri Mulyani dalam pendekatan fiskal.
"Bahkan dengan backroundnya di LPS, Purbaya boleh jadi jauh lebih konservatif ketimbang SMI dari sisi fiskal, karena lebih mengutamakan stabilitas makroprudensial," tegasnya.
Lebih lanjut, Ronny menilai bahwa keputusan Prabowo untuk menunjuk Purbaya, menunjukkan kehati-hatian Presiden dalam memilih Menteri Keuangan yang mampu menjaga kredibilitas fiskal dan stabilitas ekonomi nasional.
"Langkah pengangkatan Purbaya ini menunjukan bahwa Prabowo juga sangat hati-hati soal siapa Menkeunya. Tidak mendadak menaikan salah satu Wamenkeu begitu saja menjadi Menkeu," pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan, menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Adapun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin, 8 September, setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan perombakan kabinet Merah Putih.
Berdasarkan data RTI pukul 16.05 WIB, IHSG turun 100,49 poin atau 1,28 persen, dan ditutup di posisi 7.766,84.
Salah satu posisi strategis yang mengalami pergantian adalah Menteri Keuangan, di mana Presiden Prabowo Subianto melantik Purbaya Yudhi Sadewa menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Menanggapi penurunan IHSG pasca pengumuman tersebut, Purbaya menegaskan bahwa dirinya bukan orang baru di dunia pasar keuangan.
“Mungkin pasar nggak tau, saya orang pasar. Saya di pasar berapa? Iya, sejak tahun 2000. 15 tahun lebih,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa dirinya sudah lama mengenal dinamika pasar dan menilai bahwa tim di Kementerian Keuangan saat ini sangat solid.
(cw1/nusantaraterkini.co)
