Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Perempuan Dinilai Lebih Rentan jadi Sasaran Jual Beli Suara

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Pembina Perludem Titi Anggraini. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Yayasan Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menilai, perempuan lebih rentan menjadi sasaran praktik jual beli suara dalam kontestasi politik.

“Perempuan adalah pemilih yang loyal. Karena itu, perempuan menjadi sasaran lebih besar dari praktik jual beli suara. Sebab dia lebih loyal untuk datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) dan cenderung lebih amanah. Jadi kalau disuruh pilih A, ya pilih A. Makanya kemudian dia lebih rentan menjadi sasaran jual beli suara,” kata Pembina Perludem Titi Anggraini, Selasa (10/9/2024).

Baca Juga : Perludem: Tindak Lanjut Putusan MK Ada di Tangan Pembentuk UU

Pihaknya menambahkan dalam kontestasi politik, relasi patriarki berdampak pada rentan terjadinya pemaksaan pilihan kepada perempuan atau anak perempuan.

Baca Juga : Perludem Minta DPR Buat Aturan Calon Tunggal Kalah Lawan Kotak Kosong Tak Boleh Ikut Pilkada Ulang

“Perempuan atau anak perempuan itu lebih rentan dieksploitasi karena relasi kuasa atau hubungan yang sifatnya patriarki,” sebutnya.

Untuk itu, Perludem menekankan pentingnya edukasi mengenai Pemilu dan hak politik perempuan kepada masyarakat terutama pemilih perempuan.

Baca Juga : MPR Dorong Penguatan Peran Perempuan dalam Pelestarian Budaya Nasional

“Beban ganda perempuan membuat perempuan bisa semakin tereksklusi atau terpinggirkan ketika informasi dan pendidikan kepemiluan, voter education, dan type voter information tidak tersampaikan secara aksesibel dan komprehensif,” jelasnya.

Baca Juga : Walikota Padangsidimpuan Apresiasi Peran Fatayat NU dalam Pembinaan Gender

Mengutip data Komisi Pemilihan Umum (KPU), pihaknya menyebut bahwa tingkat partisipasi pemilih perempuan, baik dalam Pilkada, Pemilihan Presiden (Pilpres), hingga Pemilihan Legislatif (Pileg), jauh lebih tinggi daripada pemilih laki-laki.

“Di Pemilu yang lalu, data KPU (Komisi Pemilihan Umum) itu partisipasi laki-laki itu 48 persenan. Nah, kalau begitu perempuan itu 51 persenan. Jadi selisih-nya itu hampir 4 persen. Jadi lebih tinggi perempuan yang menggunakan hak pilih daripada laki-laki, itu konsisten,” tandasnya.

(cw1/Nusantaraterkini.co)