Nusantaraterkini.co, Samosir - Orang Muda Katolik St Michael Pangururan menggelar jalan salib pada saat Jumat Agung, memperagakan kisah sengsara Yesus sebelum di wafat di kayu salib.
Jalan salib dilaksanakan mulai dari kantor paroki Pangururan yang berada di Jalan D.I Panjaitan, lalu Jalan Pasar Onan Baru kemudian Jalan Putri Lopian hingga berakhir di Gereja Katolik St Michael Pangururan, Kabupaten Samosir (18/4/2025).
BACA JUGA : Eksekusi Lahan di Desa Hutabolo Samosir Sempat Alot, Dihadang Pihak Termohon
Prosesi kisah sengsara Yesus disepanjang jalan melakukan perhentian sebanyak 13 kali sampai di gereja, para orang muda seluruh umat katolik dan Pastor turut hadir dalam kisah sengsara Yesus Kristus.
Jalan salib tersebut sebagai pengingat bagi umat Kristiani, bahwa Yesus mengorbankan dirinya untuk menghapus dosa-dosan dunia.
Mery Hutabarat merupakan umat gereja mengungkapkan bahwa ia sangat terharu dan mendalami kisah sengsara Yesus.
"Saya sangat terharu dan memaknai kisah sengsara Yesus Kristus bukanlah semata-mata sebuah memperagakan jalan salib, akan tetapi lebih kepada betapa sengsaranya Yesus menebus dosa-dosa kita umat manusia", ujarnya.
Ia berharap di momen pekan suci dan Jumat Agung dapat memperbaiki diri.
"Kirannya momen pekan suci ini dan terkhususnya Jumat Agung, kita dapat memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan", tambahnya.
Threeman Saing berperan sebagai Yesus mengungkapkan bahwa ia selama di cambuk dan memikul salib terus menerus berdoa.
"Selama jalan salib saya selalu berdoa dan berdoa agar mampu memikul salib hingga perhentian terakhir, ini pertama kalinya saya perankan sebagai Yesus yang di hukum oleh umatnya dicambuk, memikul salib sejauh 1 kilometer. Sungguh saya sangat terharu ternyata begitu sakit yang Yesus rasakan untuk menanggung dosa manusia tetapi kita kadang masih saja melakukan kesalahan dan dosa", ucapnya.
BACA JUGA: Detik-detik Polda Sumut Gerebek Lokasi Siaran Langsung Pornografi Online di Tembung
Ia juga mengatakan bahwa momen yang paling tersentuh ialah ketika Bunda Maria berjumpa dengan Yesus.
"Ketika Bunda Maria berjumpa dengan Yesus dan melihat secara langsung penderitaan anak itu sungguh membuat saya tersentuh, disitu hati saya bergetar dan meneteskan air mata bahwa bagaimana perasaan seorang ibuk melihat dan menyaksikan penderitaan anaknya.Semoga kita umat kristiani bertobat dan tidak melakukan dosan lagi," tutupnya.
(cw8/Nusantaraterkini.co)
