Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Refleksi Satu Abad NU: Presiden Prabowo Serukan Kepemimpinan Berbasis Penjernihan Hati ​

Editor:  Herman Saleh Harahap
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Prabowo Subianto saat menghadiri Mujahadah Kubro dalam rangka memperingati 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU), Minggu (8/2/2026).(foto:rmol)

Nusantaraterkini.coMALANG-Stadion Gajayana, Malang, menjadi saksi penyampaian pesan moral yang kuat dari Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Mujahadah Kubro dalam rangka memperingati 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU), Minggu (8/2/2026). Di hadapan ratusan ribu jamaah, Presiden menegaskan bahwa keberlangsungan sebuah bangsa sangat bergantung pada integritas batin para pemimpinnya. Ia menekankan bahwa jabatan publik tidak boleh dijadikan sarana untuk meluapkan ambisi pribadi, melainkan harus menjadi ruang pengabdian yang bersih dari noktah kebencian dan kedengkian.

​Prabowo menggarisbawahi bahwa musuh terbesar dalam kepemimpinan bukanlah lawan politik, melainkan ego dan rasa dendam yang mampu merusak tatanan keadilan. Menurutnya, kepemimpinan yang berwibawa adalah kepemimpinan yang mampu melampaui kepentingan diri sendiri demi menjaga kerukunan nasional.

Baca Juga : HUT ke-18 Gerindra: Sinyal Dua Periode Mengudara di Senayan

"Tidak boleh pemimpin punya rasa benci, tidak boleh pemimpin punya rasa dengki, tidak boleh pemimpin selalu mencari-cari kesalahan pihak lain," ujarnya.

Baca Juga : Sumatra Berduka, PM Australia Sampaikan Simpati di Istana Merdeka

​Dalam pidatonya, Presiden merujuk pada warisan luhur para kiai dan leluhur bangsa yang selalu mengutamakan persatuan di atas perbedaan. Ia memuji konsistensi Nahdlatul Ulama yang selama satu abad telah berdiri sebagai pilar stabilitas dan penjaga harmoni di tengah keberagaman Indonesia. 

Bagi Prabowo, tradisi musyawarah dan kesediaan untuk mencari titik temu setelah adanya perbedaan pendapat adalah jati diri yang harus dihidupkan kembali oleh seluruh elite politik di tanah air.

Baca Juga : Harlah 100 Tahun, Gus Hilmy: NU Harus Terus Relevan dan Memberi Manfaat

​Sebagai penutup, Presiden mengajak seluruh elemen bangsa untuk menyatukan derap langkah. Ia memperingatkan bahwa kejayaan Indonesia tidak akan pernah tercapai jika para pemimpinnya terjebak dalam pusaran konflik personal yang destruktif. 

"Dengan mengedepankan persatuan sebagai napas kepemimpinan, saya optimis bahwa Indonesia akan tumbuh menjadi negara yang kuat, adil, dan makmur, sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa dan para ulama," pungkasnya, seperti dilansir RMOL.

Baca Juga : Tiga Perempuan Bertarung di Pilgub Jatim, Siapa Mereka?

(Emn/Nusantaraterkini.co)