Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada akhir perdagangan Senin (9/12/204) kurs rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ada di level Rp 15.861 per dolar Amerika Serikat (AS) melemah 0,08% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 15.848 per dolar AS.
Diperdagangan sore ini Pergerakan kurs rupiah di Jisdor BI sejalan dengan rupiah spot. Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 15.867 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (9/12), melemah 0,14% dibanding akhir pekan lalu yang ada di Rp 15.845 per dolar AS.
BACA: Kurs Rupiah Melemah Tipis 0,07% Berada di Rp 15.856 per Dolar AS Pagi Ini
Baca Juga : Kurs Rupiah Rontok 0,19% Berada di Rp16.050 Per Dolar AS di Perdagangan Selasa (17/12/2024) Sore Ini
Sementara, untuk di Asia, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS sore ini. Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,77%, disusul pesso Filipina yang melemah 0,47%.
Di mana yen Jepang melemah 0,25%, dolar Taiwan melemah 0,15%, rupiah melemah 0,14%, ringgit Malaysia melemah 0,12%, yuan China melemah 0,04% dan rupee India melemah 0,006% terhadap dolar AS.
BACA: IHSG Naik 0,33% ke Level 7.409 di Awal Perdagangan Senin (9/12/2924)
Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS sore ini. Baht Thailand menguat 0,67%, dolar Singapura menguat 0,23% dan dolar Hong Kong menguat 0,07% terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 106,01, turun dari akhir pekan lalu yang ada di 106,05.
Kurs Rupiah Melemah Semakin Dalam di Perdagangan Tadi Siang
Nilai tukar rupiah melemah makin dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (9/12) siang. Pukul 11.50 WIB, kurs rupiah spot berada di Rp 15.867 per dolar AS.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,40% Berada di Level Rp16.353 Per Dolar AS
BACA: Harga Emas Antam Melorot Rp5.000 Dibanderol Rp1.503.000 Per Gram di Perdagangan Senin (9/12/2024)
Kurs rupiah spot melemah 0,14% dari penutupan perdagangan akhir pekan lalu di Rp 15.845 per dolar AS. Rupiah melemah setelah menguat tiga hari perdagangan berturut-turut hingga Jumat (6/12) lalu.
Llyod Chan, ahli strategi valas MUFG mengatakan bahwa penguatan rupiah baru-baru ini terbukti bersifat sementara. Pasalnya, penguatan yang terjadi hingga akhir pekan lalu disebabkan oleh pelemahan dolar AS.
Baca Juga : Rupiah Bergerak Fluktuatif, Berpotensi Ditutup Melemah di Kisaran Rp16.800 per Dolar AS
BACA: Daftar Harga Emas Antam, UBS dan GALERI 24 di Pegadaian Hari Ini Senin, 9 Desember 2024
Dia memperingatkan bahwa mata uang rupiah dan Asia akan terus melemah pada kuartal pertama 2025 karena kemungkinan tarif AS yang lebih tinggi terhadap China dan penguatan dolar AS yang berkelanjutan.
"Meningkatnya hubungan dagang Indonesia dan China juga akan membuat Indonesia rentan terhadap meningkatkan ketegangan AS-China," ujar Chan seperti dikutip Bloomberg.
Baca Juga : Dolar AS Bangkit Usai Terseret, Pasar Bereaksi atas Penunjukan Kevin Warsh
Dia memperkirakan depresiasi rupiah akan moderat karena ekonomi Indonesia berorientasi domestik dan intervensi bank sentral.
Mayoritas mata uang Asia pada siang ini juga melemah terhadap the greenback. Menurut data Bloomberg, hanya baht Thailand dan yen Jepang yang menguat masing-masing 0,20% dan 0,08% terhadap dolar As.
Sementara won Korea mencatat pelemahan terbesar, yakni 0,86% terhadap dolar AS. Pelemahan won disusul oleh peso Filipina, dolar Taiwan, rupiah, yuan China, ringgit Malaysia, dolar Singapura, rupee India, dan dolar Hong Kong.
Di sisi lain, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia menguat ke 106,2 pada Senin siang. Akhir pekan lalu, indeks dolar masih berada di 106,05.
