Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita
Iklan

Kecam Rencana Tarif Selat Hormuz, Presiden Brasil: Trump Lakukan Pembajakan!

Presiden Brasil Lula kecam usulan Trump kenakan tarif 20% di Selat Hormuz, sebut sebagai tindakan pembajakan

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva (depan) berbicara dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Para Kepala Negara Pasar Bersama Selatan (Mercosur) ke-67 di Foz do Iguacu, Brasil, pada 20 Desember 2025. (Foto: Xinhua/Lucio Tavora)
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva (depan) berbicara dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Para Kepala Negara Pasar Bersama Selatan (Mercosur) ke-67 di Foz do Iguacu, Brasil, pada 20 Desember 2025. (Foto: Xinhua/Lucio Tavora)
A A

Nusantaraterkini.co, RIO DE JANEIRO - Luiz Inacio pada Senin (13/7/2026) mengkritik usulan Presiden Amerika Serikat (AS) untuk mengambil alih dan mengenakan tarif transit sebesar 20 persen.

Lula pun menyebut rencana Trump tersebut sebagai pembajakan.

Lula melontarkan hal itu dalam kunjungannya ke fasilitas laboratorium di Institut Teknologi Maua di Negara Bagian Sao Paulo.

Adapun, komentar tersebut merupakan tanggapan atas unggahan media sosial dan wawancara televisi Trump sebelumnya, di mana pemimpin AS tersebut mengeklaim negaranya akan bertindak sebagai penjaga selat itu dan menuntut pungutan kargo tambahan sebesar 20 persen untuk alasan keamanan.

"Dulu, tindakan itu disebut sebagai pembajakan," tutur Lula.

Lula juga menyatakan bahwa AS, sebagai negara yang telah lama memerangi aksi pembajakan, tidak sepatutnya berubah menjadi negara pembajak.

tersebut menggambarkan inisiatif pemungutan biaya transit maritim itu sebagai tindakan yang tidak demokratis dan tak beradab, sembari menambahkan bahwa tidak wajar jika ada pihak yang memanfaatkan sebuah tragedi untuk meraup keuntungan dengan mengorbankan pihak lain.

Lula mengkritik keras dampak ekonomi lebih luas dari konflik yang dimotori AS tersebut terhadap negara-negara yang tidak terlibat, seraya menekankan bagaimana ketegangan global memicu lonjakan harga komoditas lokal.

"Harga dari peperangan ini telah merembet hingga ke kacang, beras, dan tomat kita," ujar Lula. 

(zie/Nusantaraterkini.co)

Sumber: Xinhua 

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru