Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Tidak semua perjalanan hidup dimulai dari kota besar, fasilitas lengkap, atau garis start yang sama.
Sebagian justru berangkat dari keterbatasan, jalan tanah, dan mimpi yang tampak terlalu tinggi untuk diraih. Kisah itulah yang coba dituturkan dalam biografi “Anak Dusun Menjaring Impian: Sebuah Biografi Insan Bhayangkari”, buku yang mengangkat perjalanan hidup mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Komjen Pol (Purn) Firli Bahuri.
Buku setebal lebih dari 500 halaman ini diluncurkan pada Sabtu, 13 Desember 2025, di kawasan Sentul, Bogor. Peluncuran berlangsung sederhana, bertepatan dengan perayaan ulang tahun pernikahan ke-33 Firli Bahuri dan istrinya, Dina Bahuri.
Baca Juga : Bedah Rumah di Akpol, Firli Bahuri: Pelangi Indah karena Ada Seberkas Cahaya
Tanpa kemegahan berlebihan, acara ini dihadiri keluarga dan sahabat dekat—sebuah suasana yang merefleksikan semangat buku itu sendiri: kembali ke akar, ke perjalanan manusiawi seorang tokoh.
Ditulis oleh Arief Gunawan dan diterbitkan oleh Booknesia, Anak Dusun Menjaring Impian mengajak pembaca menelusuri jejak Firli Bahuri sejak masa kecilnya di Dusun Lontar, sebuah wilayah terpencil di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.
Dari dusun kecil itulah, Firli memulai langkah panjang yang kelak membawanya ke posisi strategis dalam institusi negara.
Dari Dusun Lontar ke Palembang, Mimpi yang Diperjuangkan
Masa kecil Firli Bahuri jauh dari gambaran kehidupan elite. Dusun Lontar, tempat ia tumbuh, bukanlah kawasan dengan akses pendidikan dan fasilitas memadai.
Namun keterbatasan itu justru menjadi ruang pembentukan karakter. Sejak dini, Firli terbiasa hidup sederhana, disiplin, dan berusaha keras untuk meraih pendidikan yang lebih baik.
Keinginan untuk melanjutkan sekolah membawa Firli Bahuri merantau ke Palembang demi menempuh pendidikan di bangku SMA. Perjalanan fisik dan mental itu menjadi fase penting dalam hidupnya.
Di kota inilah, Firli mulai memperlihatkan ketekunan yang kelak dikenang banyak orang.
Salah satu sahabat lamanya, Eddy Iskandar—pendiri International Community for Emotional Freedom Techniques (EFT) Practitioners—mengisahkan bagaimana Firli muda dikenal berbeda dibandingkan remaja seusianya. Saat teman-temannya menghabiskan waktu istirahat di kantin atau lapangan sekolah, Firli justru memilih perpustakaan.
Baca Juga : Purnawirawan Polri Kumpul di TMP Kalibata, Ada Dai Bachtiar, BHD, Timur Pradopo, Sutarman, dan Firli Bahuri
“Ia duduk tenang dan tekun, membaca buku. Mencatat hal-hal penting. Ia menjadikan setiap pengetahuan di halaman buku sebagai bekal perjalanan ke masa depan,” tulis Eddy dalam kata pengantar buku tersebut.
Ketekunan itu, menurut Eddy, bukan sekadar kebiasaan belajar, melainkan fondasi karakter. Firli tidak merasa perlu mengikuti arus demi diterima lingkungan. Ia memilih jalannya sendiri—sunyi, tetapi konsisten.
Empat Kali Gagal, Satu Kali Bertahan
Selepas SMA pada 1982, Firli Bahuri mengincar satu tujuan besar: menjadi perwira polisi. Namun jalan menuju Akademi Kepolisian (Akpol) tidaklah mulus. Empat kali ia mengikuti seleksi, empat kali pula ia gagal—semuanya kandas di tahap akhir seleksi di Magelang, Jawa Tengah.
Bagi banyak orang, kegagalan berulang bisa menjadi alasan untuk menyerah. Namun bagi Firli, kegagalan justru menjadi bagian dari proses pendewasaan. Di sela kegagalan itu, ia menempuh jalur lain dengan mengikuti pendidikan bintara polisi dan bertugas di Polres Cibabat, Polda Jawa Barat.
Baca Juga : Purnawirawan Jenderal Polri Kumpul di TMP Kalibata, Ada Timur Pradopo hingga Firli Bahuri
Pengalaman sebagai bintara memberi Firli pemahaman lapangan yang nyata tentang dunia kepolisian—tentang kedisiplinan, hirarki, dan pengabdian. Hingga akhirnya, pada kesempatan terakhir tahun 1987, Firli berhasil lolos seleksi Akpol. Tiga tahun kemudian, pada 1990, ia resmi dilantik sebagai perwira muda dengan pangkat Letnan Dua.
Kisah ini menjadi salah satu benang merah kuat dalam buku Anak Dusun Menjaring Impian: tentang kegigihan, tentang bertahan ketika peluang tampak semakin sempit, dan tentang keyakinan bahwa tidak semua mimpi diraih lewat jalan lurus.
Menjadi Polisi di Banyak Medan Pengabdian
Karier Firli Bahuri sebagai perwira Polri membawanya ke berbagai daerah penugasan. Ia pernah bertugas di Jakarta, Timor Timur (kini Timor Leste), Lampung, Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat, hingga kembali ke tanah kelahirannya di Sumatera Selatan.
Pengalaman lintas wilayah itu membentuk perspektif Firli sebagai aparat negara yang berhadapan langsung dengan beragam persoalan masyarakat. Ia juga sempat bergabung dalam Kontingen Garuda untuk misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kamboja (UNTAC), sebuah pengalaman internasional yang menambah wawasan tentang penegakan hukum dan stabilitas keamanan.
Baca Juga : Legenda Bulutangkis Tan Joe Hok Meninggal Dunia, Firli Bahuri Ikut Berduka
Sebelum menjabat sebagai Ketua KPK RI, Firli menutup pengabdiannya di Polri dengan posisi strategis sebagai Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam). Jabatan ini menempatkannya di jantung pengambilan keputusan terkait keamanan nasional.
Membaca Firli dari Sisi Manusiawi
Selain Eddy Iskandar, kata pengantar buku ini juga ditulis oleh Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa. Dalam pengantarnya, Teguh menekankan pentingnya membaca seorang tokoh dari sisi kemanusiaannya, bukan semata dari jabatan atau kontroversi yang melekat.
“Yang membuatnya manusia bukanlah jabatan yang pernah dipegangnya, melainkan jalan panjang yang ia tempuh: dari kampung terpencil, melalui badai, hingga ke puncak tanggung jawab negara,” tulis Teguh.
Menurut Teguh, biografi ini tidak dimaksudkan untuk menuntut pembenaran atau membela Firli Bahuri dari berbagai tudingan publik. Buku ini, kata dia, justru mengundang pembaca untuk melihat sisi lain yang kerap luput dalam hiruk-pikuk opini dan pemberitaan.
Dalam konteks era disrupsi dan *post-truth*, di mana opini publik sering kali dibentuk oleh emosi dan narasi subjektif, Teguh menilai kisah-kisah pembentuk karakter seperti ini rawan terpinggirkan. Padahal, memahami latar belakang seseorang adalah bagian penting dalam membaca perjalanan hidupnya secara utuh.
Biografi dan Janji Sequel
Menariknya, Anak Dusun Menjaring Impian memang tidak membahas secara langsung berbagai tuduhan dan kontroversi yang pernah dialamatkan kepada Firli Bahuri selama menjabat sebagai Ketua KPK. Teguh mengungkapkan bahwa Firli menyadari hal tersebut.
Dalam komunikasi sebelum penulisan kata pengantar, Firli disebut menyatakan bahwa dirinya akan menjawab berbagai tuduhan itu dalam buku terpisah. Buku lanjutan tersebut, menurut Firli, akan mengungkap versinya tentang kebenaran selama memimpin lembaga antirasuah serta menjawab tudingan dari pihak-pihak yang tidak sejalan dengan kebijakannya.
Pernyataan ini menempatkan Anak Dusun Menjaring Impian sebagai fondasi naratif—bukan pembelaan, melainkan potret perjalanan hidup yang membentuk karakter seorang Firli Bahuri.
Menjaring Impian, Menjaring Makna
Pada akhirnya, biografi ini tidak hanya berbicara tentang Firli Bahuri sebagai individu, tetapi juga tentang makna mimpi dan ketekunan.
Dari Dusun Lontar yang sunyi hingga ruang-ruang kekuasaan negara, perjalanan Firli menjadi pengingat bahwa latar belakang bukanlah vonis, melainkan titik awal.
Buku ini mungkin tidak akan menjawab semua pertanyaan publik. Namun ia menawarkan satu hal penting: ruang untuk melihat manusia di balik seragam, jabatan, dan kontroversi. Sebuah kisah tentang anak dusun yang menjaring impian, dengan segala luka, jatuh bangun, dan keyakinan bahwa kebenaran, seperti yang ditulis Teguh Santosa, “tidak akan mendua dan akan menemukan jalannya sendiri.”
(Akb/nusantaraterkini.co)
