Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rokok Ilegal Bahayakan Kesehatan, Komentar Pedas Netizen untuk Bos HM Sampoerna

Editor:  Akbar
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), Ivan Cahyadi saat berkomentar bahwa rokok ilegal dapat merusak kesehatan. (Istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Pernyataan Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), Ivan Cahyadi, soal bahaya rokok ilegal mendadak viral di media sosial X (sebelumnya Twitter). 

Dalam unggahannya, Ivan Cahyadi meminta masyarakat untuk berhenti membeli rokok ilegal karena membahayakan kesehatan dan merugikan negara.

Unggahan tersebut di-posting akun X @KangManto123 pada Rabu (10/9/2025) dengan caption:“Bos HM Sampoerna minta masyarakat stop beli rokok ilegal, karena membahayakan kesehatan.”

Baca Juga : Legislator Dukung Satgas Rokok Ilegal: Jaga Penerimaan Negara, Lindungi Industri Legal

Tak butuh waktu lama, postingan itu dibanjiri komentar warganet hingga meraih 3 ribu like, seribu komentar, 766 repost, dan lebih dari 409 ribu tayangan.

Netizen Soroti Harga Rokok Legal yang Mahal

Meski tujuannya baik, pernyataan Ivan Cahyadi justru menuai pro-kontra. Banyak netizen yang menilai persoalan rokok ilegal tidak bisa dilepaskan dari harga rokok legal yang terus naik akibat kenaikan cukai setiap tahun.

Beberapa komentar warganet di X antara lain:

@bejokdi: “Membahayakan kesehatan pundi-pundi trah Sampoerna.”

@didiek_murdock: “Stop beli rokok HM Sampoerna. Sahamnya sudah dibeli Philip Morris. Pertama mahal, kedua rasa jisamsu sudah beda, ketiga lebih menguntungkan asing. Mending beli rokok UMKM tetangga.”

@HaryoHafiz64218: “Cuma mau kasih saran, samain harga rokok legal sama ilegal. Beda seribu perak aja, pasti orang balik ke rokok legal. Gimana caranya? Kan kalian orang pinter, pikirinlah.”

@KangHendro2: “Naiknya cukai tiap tahun bikin mekanisme pasar wajar aja. Kalau ada barang substitusi yang lebih murah, ya orang beralih, legal atau ilegal nggak penting.”

Komentar ini memperlihatkan keresahan masyarakat soal mahalnya harga rokok legal yang dianggap mendorong maraknya peredaran rokok ilegal.

Ivan Cahyadi: Rokok Ilegal Rugikan Negara dan Bahayakan Konsumen

Ivan Cahyadi menegaskan, persoalan rokok ilegal bukan hanya mengganggu bisnis Sampoerna, tetapi juga merugikan pemerintah. 

“Sebetulnya yang terganggu bukan cuma Sampoerna, tapi juga pemerintah. Karena penerimaan cukai negara jadi berkurang drastis,” ujarnya, dikutip dari zonabrita, Rabu (10/9/2025).

Baca Juga : Personel Satpol PP dan Bea Cukai Sibolga Sita Rokok Ilegal 1.394 Bungkus di Padangsidimpuan

Ia menambahkan, rokok ilegal berisiko tinggi bagi kesehatan karena tidak memenuhi standar pemerintah. “Rokok ilegal tidak melalui pengawasan ketat. Bahan-bahan yang digunakan bisa berbahaya dan tidak sesuai standar kesehatan,” jelasnya.

Data Bea Cukai: Rokok Ilegal Masih Mendominasi

Menurut data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), hingga Juni 2025 tercatat 13.248 penindakan barang ilegal dengan total nilai barang Rp3,9 triliun. Dari angka tersebut, rokok ilegal mendominasi 61 persen.

Dirjen Bea Cukai, Djaka Budhi Utama, menjelaskan bahwa meski jumlah penindakan turun 4 persen dibanding tahun 2024, jumlah batang rokok ilegal yang disita justru meningkat 38 persen.

Baca Juga : Pemberantasan Rokok Ilegal Butuh Penindakan dari Hulu hingga Hilir

“Melalui Operasi Gurita yang digelar sejak 28 April hingga 30 Juni 2025, Bea Cukai telah melakukan 3.918 penindakan dengan total barang hasil penindakan mencapai 182,74 juta batang rokok ilegal,” ungkapnya.

Rokok Ilegal, Antara Harga dan Kesadaran Masyarakat

Fenomena rokok ilegal di Indonesia menunjukkan adanya celah antara daya beli masyarakat, kebijakan cukai, dan kesadaran konsumen.

Bagi masyarakat, harga rokok legal yang terus naik dianggap mendorong konsumsi rokok ilegal yang lebih murah. Namun dari sisi pemerintah, peredaran rokok ilegal jelas merugikan negara dan membahayakan kesehatan publik.

Pernyataan Ivan Cahyadi menjadi sorotan publik, sekaligus membuka perdebatan baru: apakah solusi mengurangi rokok ilegal cukup dengan imbauan, atau perlu kebijakan menyeluruh terkait harga rokok legal, pengawasan ketat, serta edukasi kesehatan masyarakat?

(Akb/nusantaraterkini.co)