Iran Belum Sepakat Buka Selat Hormuz, Negosiasi dengan AS Masih Buntu
Iran belum sepakat membuka Selat Hormuz karena negosiasi dengan AS masih buntu. Teheran mengajukan sejumlah syarat untuk membuka jalur minyak.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Upaya mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz belum menemui titik terang. Iran menyatakan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat (AS) belum dapat dilanjutkan karena Teheran menilai Washington masih melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan sebelumnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembahasan mengenai pembentukan jalur pelayaran sementara di Selat Hormuz sebenarnya sudah mendekati kesepakatan.
Namun, menurut Araghchi, posisi Iran berubah setelah AS dinilai tidak memenuhi komitmen dalam Memorandum of Understanding (MoU) perdamaian yang ditandatangani pada Juni.
“Selama pelanggaran Amerika terhadap Memorandum of Understanding (MoU) terus berlanjut dan AS tidak memperbaiki pelanggarannya, tidak ada kemungkinan untuk melanjutkan kembali negosiasi,” ujar Araghchi seperti dikutip Bloomberg dan televisi pemerintah Iran, Minggu (9/8/2026).
Iran Ajukan Sejumlah Syarat
Teheran sebelumnya kembali menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Washington sebagai syarat untuk membuka Selat Hormuz secara penuh.
Iran antara lain meminta kompensasi, pencabutan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, penarikan pasukan AS dari sekitar wilayah Iran, penghentian sanksi, hingga pencairan aset Iran yang saat ini dibekukan.
Tuntutan tersebut disampaikan Mohammad Bagher Zolghadr, tokoh garis keras yang memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Dengan belum adanya titik temu, kelancaran pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia masih menghadapi ketidakpastian.
Iran Bantah Ada Negosiasi Langsung dengan AS
Washington sebelumnya menyatakan adanya pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Namun, Teheran membantah tengah melakukan negosiasi langsung dengan pemerintah AS.
Araghchi mengatakan komunikasi antara kedua negara masih berlangsung melalui sejumlah negara perantara.
“Beberapa negara perantara sedang berupaya membangun kembali dasar untuk negosiasi. Saat ini, kami tidak sedang bernegosiasi dengan AS, pertukaran pesan dilakukan melalui perantara,” katanya.
Sementara itu, Oman menyebut komunikasi dengan Iran berlangsung dalam suasana positif dan konstruktif.
Pemerintah Oman melalui unggahan di X juga menyerukan penghentian tindakan yang dapat memperburuk situasi di Selat Hormuz agar jalur diplomasi tetap terbuka.
Trump Desak Selat Hormuz Dibuka
Presiden AS Donald Trump sebelumnya berulang kali mendesak agar lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz kembali normal.
Trump juga beberapa kali mengeluarkan ancaman serangan baru terhadap Iran jika jalur strategis tersebut tidak dibuka.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan terdapat perkembangan dalam pembicaraan yang berlangsung.
Meski demikian, Vance mengaku belum dapat memastikan apakah hasil pembahasan nantinya akan memenuhi kepentingan Washington.
“Pertanyaannya adalah apakah Iran akan mampu memberikan hal-hal yang diperlukan agar kami merasa senang, agar kami merasa telah mendapatkan apa yang kami butuhkan dari keterlibatan khusus ini,” ujar Vance kepada Fox News.
Kapal Masih Menghadapi Ancaman
Ketidakpastian mengenai pembukaan Selat Hormuz juga beriringan dengan meningkatnya risiko keamanan bagi kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Iran dan salah satu kelompok angkatan laut utama negara-negara Barat sebelumnya mengusulkan koridor transit masing-masing agar kapal dapat tetap melewati Selat Hormuz.
Namun, sebagian besar aktivitas pelayaran di jalur tersebut dilaporkan terhenti sejak konflik pecah.
Sejumlah kapal masih melakukan pengangkutan kargo melalui skema pengiriman ulang yang melibatkan bantuan militer AS.
Abu Dhabi National Oil Co. juga melaporkan salah satu kapalnya menjadi sasaran ketika melintas pada Sabtu pagi. Kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab, WAM, menyebut insiden tersebut tidak menimbulkan korban dan situasi telah berhasil dikendalikan.
Tiga kapal lain milik produsen minyak terbesar Uni Emirat Arab tersebut juga dilaporkan mengalami serangan pada pekan sebelumnya.
Harga Minyak Ikut Terpengaruh
Ketidakpastian di Selat Hormuz turut menjadi perhatian pasar energi global.
Harga minyak Brent bergerak fluktuatif sepanjang pekan lalu dan akhirnya ditutup di atas US$83 per barel.
Pelaku pasar kini mencermati peluang tercapainya kesepakatan yang dapat membuka kembali jalur pengiriman dan memungkinkan jutaan barel minyak dari kawasan Teluk Persia kembali masuk ke pasar global.
Ketegangan juga merembet ke kawasan selatan Laut Merah. Kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Arab Saudi yang menjadi salah satu jalur alternatif ekspor minyak negara tersebut.
Pada Minggu (9/8), Houthi mengklaim telah menyerang kilang Jizan milik Saudi Aramco menggunakan drone. Kelompok tersebut menyebut serangan dilakukan sebagai respons atas tindakan Arab Saudi di wilayah udara Yaman.
Kementerian Energi Arab Saudi sebelumnya menyatakan kebakaran di fasilitas tersebut telah berhasil dipadamkan dan tidak menyebabkan korban luka. Pemerintah Saudi belum menjelaskan penyebab kebakaran tersebut.
Saudi Aramco juga belum memberikan pernyataan terkait insiden itu.
Citra satelit sebelumnya menunjukkan adanya kebakaran pada sebuah tangki di kompleks yang memiliki kapasitas sekitar 400.000 barel per hari pada akhir Juli. Saat itu, Houthi juga mengklaim telah melakukan serangan terhadap fasilitas tersebut.
Situasi di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah kini menjadi perhatian utama pasar energi dunia karena gangguan berkepanjangan dapat berdampak terhadap kelancaran pasokan minyak dan gas global.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KRIMINALCekcok Biaya Anak Berujung Maut, Istri di OKI Tusuk Suami PNS hingga Tewas
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMSELBPBD Sumsel Kerahkan Helikopter Water Bombing Padamkan Karhutla Puluhan Hektare di OKI dan Muara Enim
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NEWS VIDEOHotel di Bali Berguguran, DPR Soroti Tiket Mahal hingga Infrastruktur
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
KRIMINALBawa 480 Gram Sabu dari Medan ke Aceh, Penumpang Travel Ditangkap
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
KRIMINALKasus Penganiayaan Tokoh Pers oleh Oknum Polisi Masih Berlanjut di Polres Padangsidimpuan
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
ENTERTAIMENTKartika Ong Perjalanan Hidup Dibalut jadi Lirik Lagu, Aku Bukan Yang Hilang
Akbar·2 jam yang lalu -
KOTA MEDANStrategi Pemko Medan Optimalkan PAD dan Infrastruktur dalam R-APBD Perubahan 2026
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
EKONOMIPemprov Sumut dan AS Jajaki Peluang Investasi Strategis untuk Dongkrak Perekonomian Daerah
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
NASIONALDPD Dorong Menag Perkuat Toleransi dan Desak Penyelesaian Konflik Rumah Ibadah
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
Semua berita sudah ditampilkan