Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Indeks Utama Wall Street Bergerak Mixed Menjelang Musim Liburan Natal yang Sibuk

Indeks utama Wall Street bergerak mixed di mana RUU pendanaan pemerintah sementara mencegah shutdown dan investor berjuang dengan laju pemotongan suku

Bagikan:
reli Wall Street mengalami lonjakan bulan ini, terutama setelah Federal Reserve AS memperkirakan hanya dua pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk tahun 2025.ย (sumber foto: reuters)
reli Wall Street mengalami lonjakan bulan ini, terutama setelah Federal Reserve AS memperkirakan hanya dua pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk tahun 2025.ย (sumber foto: reuters)
A A

Nusantaraterkini.co, New York - Pada awal perdagangan Senin (23/12) indeks utama Wall Street bergerak mixed di mana RUU pendanaan pemerintah sementara mencegah shutdown dan investor berjuang dengan laju pemotongan suku bunga yang lebih lambat dari bank sentral AS tahun depan.

BACA: Wall Street Bertengger di Zona Hijau di Perdagangan Terakhir Pekan Ini Setelah Dua Hari yang Lesu

Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, pada bel pembukaan perdagangan, indeks turun 39,8 poin, atau 0,09% ke level 42800,49. 

Di mana S&P 500 naik 9,4 poin, atau 0,16% ke level 5940,25â€, sementara Nasdaq Composite naik 68,5 poin, atau 0,35%, ke level 19.641,05.

BACA: Bursa Asia Kompak Terjebak di Zona Merah Mengekor Koreksi di Wall Street Karena Federal Reserve Memangkas Suku Bunga

Kongres Amerika Serikat meloloskan undang-undang belanja pada Sabtu pagi, beberapa menit setelah anggaran berakhir, yang dapat mengganggu segalanya mulai dari penegakan hukum hingga taman nasional menjelang musim liburan Natal yang sibuk.

Setelah berjalan solid sejak pemilihan presiden November, reli Wall Street mengalami lonjakan bulan ini, terutama setelah memperkirakan hanya dua pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk tahun 2025. 

BACA: Wall Street Bergerak Bervariasi Menanti dari Sinyal Keputusan Suku Bunga Akhir Federal Reserve Tahun Ini

Turun dari perkiraan September sebanyak empat pemangkasan, dan menaikkan prospek inflasi tahunannya. Hal ini menjadi tanda bahwa ekonomi terbesar di dunia itu dalam kondisi yang sangat baik.

Namun, laporan inflasi yang lebih dingin dari perkiraan pada hari Jumat meredakan beberapa kekhawatiran tentang pemangkasan suku bunga tahun depan, membantu tiga indeks saham utama AS bangkit kembali.

BACA: Wall Street Bergerak Bervariasi Menanti dari Sinyal Keputusan Suku Bunga Akhir Federal Reserve Tahun Ini

Pasar uang memperkirakan sekitar dua kali penurunan suku bunga sebesar 25 bps pada tahun 2025, yang akan membawa suku bunga acuan ke kisaran 3,75% hingga 4,0%, dari kisaran sekitar 3,50 hingga 3,75% dua minggu lalu.

"Kami lebih suka Fed memangkas lebih sedikit suku bunga saat ekonomi sedang kuat, daripada harus memangkas lebih banyak suku bunga saat ekonomi sedang melemah," kata Art Hogan, kepala strategi pasar, B Riley Wealth.

Indeks keyakinan konsumen untuk bulan Desember akan dirilis pada pukul 10 pagi ET.

"Hari Senin ini hanya ada sedikit katalis yang mendorong sentimen (pasar secara luas), dan volume perdagangan akan rendah, kemungkinan besar volatilitas akan terjadi saat kita mengakhiri tahun ini," kata Hogan.

Volume perdagangan diperkirakan akan menurun, lantaran pasar saham AS akan tutup lebih awal pada hari Selasa dan tutup untuk merayakan Natal pada hari Rabu.

Pasar juga memasuki periode yang secara historis kuat untuk saham AS. Sejak tahun 1969, lima hari perdagangan terakhir tahun ini, dikombinasikan dengan dua hari pertama tahun berikutnya, telah menghasilkan kenaikan S&P 500 rata-rata sebesar 1,3% - periode yang dikenal sebagai "Santa Claus Rally", menurut Stock Trader's Almanac.

S&P 500 telah melonjak 24,3% sejauh ini pada tahun 2024, Dow telah naik 13,7% dan Nasdaq telah melonjak 30,4%.

Saham Qualcomm naik 2% dalam perdagangan pre market setelah juri menemukan prosesor sentralnya memiliki lisensi yang sesuai berdasarkan perjanjian dengan Arm Holdings yang berbasis di Inggris. 

Saham Arm, yang telah berjanji untuk mengajukan gugatan ulang, turun sekitar 2,7%.

Saham Rumble melonjak 40% setelah platform berbagi video itu mengatakan telah menerima investasi strategis sebesar US$ 775 juta dari perusahaan mata uang kripto Tether.

Di antara perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar, kapitalisasi pasar Apple mencapai US$ 3,86 triliun karena perusahaan paling berharga di dunia itu semakin mendekati tonggak sejarah US$ 4 triliun.

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait