Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

IHSG Stagnan Bertengger di Level Level 6.900,601di Perdagangan Sesi I Siang Ini

Editor:  Team
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) stagnan di tengah kekhawatiran pasar terhadap kebijakan tarif tambahan dari Amerika Serikat (AS).

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan sesi pertama Selasa (8/7/2025) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) stagnan di tengah kekhawatiran pasar terhadap kebijakan tarif tambahan dari Amerika Serikat (AS).

Mengutip data RTI, IHSG ditutup di level 6.900,601, nyaris tidak berubah dari posisi pembukaan. Sebelumnya, indeks sempat bergerak fluktuatif dan cenderung melemah di sesi pagi.

Sebanyak 276 saham menguat, 281 saham melemah, dan 220 saham stagnan. Total volume perdagangan mencapai 9 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 4,8 triliun.

Baca Juga : Pasar Menanti Data PDB, IHSG Berpeluang Menguat Terbatas

Delapan dari sebelas indeks sektoral melemah dan menjadi pemberat pergerakan IHSG. Sektor-sektor yang mencatat pelemahan terdalam antara lain: IDX-Techno turun 0,59%, IDX-Finance turun 0,57%, dan IDX-Cyclic turun 0,45%

Saham LQ45 yang tercatat sebagai top losers antara lain:

PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) turun 5,81% ke Rp 730

Baca Juga : IHSG Berpeluang Lanjutkan Reli ke 8.122, Ini 4 Saham Pilihan Analis

PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) turun 2,80% ke Rp 1.215

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 2,34% ke Rp 3.340

Saham LQ45 yang tercatat sebagai top gainers::

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) naik 4,81% ke Rp 545

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) naik 2,80% ke Rp 1.470

PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) naik 2,14% ke Rp 955

IHSG Menghijau Bertambah 35,74 Poin ke Level 6.900 di Awal Perdagangan Selasa (8/7/2026)

Awal perdagangan Selasa (8/7/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif di seiring mayoritas bursa Asia yang justru menguat meski dibayangi sentimen negatif dari kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat (AS).

Melansir RTI pukul 09.10 WIB, IHSG turun tipis 0,09% atau 6,468 poin ke level 6.894,464. Tercatat 209 saham turun, 190 saham naik, dan 200 stagnan.

Total volume perdagangan 1,5 miliar saham dengan nilai transaksi capai Rp 801 miliar.

Sebanyak enam indeks sectoral membebani Langkah IHSG pagi ini. Tiga sector diantaranya: IDX-NonCyc 0,36%, IDX-Property 0,31%, dan IDX-Finance 0,29%.

Saham-saham top losers LQ45:

- PT Bank Jago Tbk (ARTO) turun 1,15%

- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 1,11%

- PT Ciputra Development Tbk (CTRA) turun 1,02%

Saham-saham top gainers LQ45:

- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) naik 2,44%

- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 2,33%

- PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) naik 1,71%

Analis Pasar: IHSG Cenderung Bergerak Lesu Dipicu Data Ekonomi dan Isu Geopolitik

Pada penutupan perdagangan Senin (7/7/2025) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau pada perdagangan awal pekan ini setelah melemah sepanjang pekan lalu.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG menguat 0,52% atau bertambah 35,74 poin ke level 6.900.

Menanggapi hal tersebut, Analis Korea Invesment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan pergerakan IHSG hari ini, Senin (7/7) disetir oleh pelaku pasar yang cenderung wait and see terkait tarif Trump serta menanti IPO dari saham CDIA.

"Level IHSG pagi ini ada potensi penguatan tapi terbatas di posisi 6.825-6.925," kata Wafi.

Untuk pagi ini, Wafi berpendapat IHSG akan dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi dan isu geopolitik. 

Sementara itu, Chief Executive Officer Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo bilang pergerakan IHSG di perdagangan hari ini cenderung bergerak lesu karena investor memantau kondisi kebijakan tarif impor dan data ekonomi AS untuk outlook suku bunga acuan.

Selain itu, investor menanti rilis data retail sales Indonesia dan inflasi tahunan China pekan ini, serta menunggu hasil final negosiasi dagang antara AS dan negara lainnya termasuk Indonesia.

"IHSG hari ini berpeluang menguat ke kisaran 6.872 sampai 6.930," ucap Praska.

Rekomendasi Saham

Praska menyarankan pelaku pasar untuk mencermati saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan target harga Rp 2.400-Rp 2.500 per saham dan PT Astra International Tbk (ASII) pada target harga Rp 5.000 per saham.

Sementara, Wafi merekomendasikan saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bank Mandiri (BMRI) dan MDKA di target harga masing-masing Rp 1.400, Rp 8.200, Rp 5.000 dan Rp 2.300 per saham.

(wiwin/nusantaraterkini.co)