Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Gunawan Benjamin: Kewajiban Iuran Tapera Sebabkan Disposal Income Masyarakat Berkurang

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Sofyan Akbar
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Gunawan Benjamin. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin menilai kewajiban iuran program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) melalui potongan gaji dapat menyebabkan berkurangnya Disposal income masyarakat.

"Khususnya kelas ekonomi masyarakat menengah. Disposal income yang turun akan menambah tekanan pada daya beli masyarakat," ungkapnya, Rabu (29/5/2024).

Baca Juga : Harga Emas Tahun 2026 Masih Bullish

Gunawan menjelaskan, potongan gaji dari Tapera ini tentunya juga akan menambah potongan gaji lainnya setelah Pph, BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

Baca Juga : Program Makan Bergizi Gratis Diprediksi Jaga Ekonomi Sumut di Level 5% pada 2026

Meski begitu, dia menilai program ini sebetulnya cukup bagus terutama dalam upaya menyediakan rumah bagi para pekerja.

"Namun program ini dieksekusi saat daya beli masyarakat terbebani oleh inflasi pangan. Sehingga wajar saja kalau menimbulkan resistensi dari masyarakat khususnya para pekerja," jelasnya.

Baca Juga : DPR Khawatir Program Iuran Tapera Bakal jadi Sumber Korupsi Baru

Untuk itu, Gunawan berharap, agar pemerintah mempertimbangkan lagi secara matang untuk eksekusi kebijakan tersebut dalam waktu dekat. 

Baca Juga : Partai Gelora Beri Masukan ke Prabowo untuk Akhiri Polemik Tapera

Menurutnya, iuran Tapera sebesar 3 persen, di mana 2,5 persen berasal dari pekerja dan 0,5 persen dari perusahaan memiliki dampak yang besar terlebih jika membandingkannya dengan kenaikan UMK di sejumlah wilayah di Tanah Air.

"Terlebih untuk wilayah yang UMK-nya naik tapi kurang dari 3 persen di tahun 2024. Sehingga iuran Tapera akan menggerus kenaikan upah yang seharusnya pekerja nikmati," terangnya.

Baca Juga : Penyesalan Menteri Basuki soal Tapera

Gunawan menyebutkan, situasi kian berat manakala inflasi volatile food justru bertahan tinggi dan realisasi inflasi ini berbeda setiap wilayah. Namun inflasi volatile food yang terealisasi saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi umum secara nasional.

"Bayangkan saja inflasi volatile food saat ini berada di level 9.63% pada bulan april (YoY). Sementara inflasi secara keseluruhan secara YoY sebesar 3% di Indonesia," imbuhnya.

Sehingga, lanjut Gunawan, akibatnya disposal income yang diterima oleh masyarakat masih akan terbebani dengan sejumlah pengeluaran yang besar untuk kebutuhan pangan.

"Ini catatan yang seharusnya bisa jadi pertimbangan pemerintah. Memang program Tapera ini baik, tapi bisa saja dieksekusi diwaktu yang kurang tepat," tuturnya.

Gunawan mengakui, bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini banyak masyarakat yang masih kesulitan dalam penyediaan kebutuhan perumahan. Sehingga kebijakan pemerintah ini memang sangat membantu masyarakat khususnya pekerja untuk mendapatkan rumah.

"Dan jika nantinya kebijakan ini dieksekusi, dana kelolaan dari Tapera ini harus bisa memberikan mulitiplier efek yang besar bagi pembangunan di Tanah Air," pungkasnya.

(Akb/nusantaraterkini.co)