DPR Desak Penindakan Tambang Tanpa Izin, Saadiah: Negara Jangan Diam
Saadiah Uluputty (DPR RI) kritik keras tambang ilegal & kriminalisasi masyarakat adat. Negara diminta segera bertindak
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Anggota Komisi XIII DPR RI, Saadiah Uluputty melontarkan kritik keras terhadap dugaan masih beroperasinya perusahaan tambang tanpa izin dan tanpa dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan lemahnya penegakan hukum sekaligus minimnya perlindungan negara terhadap hak-hak masyarakat adat.
Saadiah mempertanyakan bagaimana perusahaan yang diduga tidak mengantongi izin maupun AMDAL masih dapat menjalankan aktivitasnya. Di sisi lain, masyarakat adat yang berupaya mempertahankan wilayahnya justru kerap menghadapi tekanan hingga dugaan kriminalisasi.
"Hari ini saya dengar ada perusahaan yang beroperasi tanpa izin, tanpa AMDAL. Ini negara apa? Ada perusahaan membuka usaha tanpa izin dan tanpa AMDAL," tegasnya, Rabu (1/7/2026).
Politikus PKS itu juga menyoroti kawasan seluas sekitar 2,8 juta hektare yang menjadi pembahasan dalam rapat. Ia mempertanyakan apakah sebagian besar kawasan tersebut merupakan wilayah adat yang telah mendapat perlindungan hukum melalui putusan Mahkamah Konstitusi.
Menurutnya, apabila benar sekitar 70 persen kawasan tersebut merupakan tanah adat, maka negara berkewajiban memastikan hak-hak masyarakat adat tidak dirampas oleh kepentingan usaha.
"Apakah di kawasan 2,8 juta hektare itu ada tanah adat? Kalau benar 70 persen merupakan tanah adat, berarti ada hak masyarakat adat yang dirampas, padahal sudah ada putusan Mahkamah Konstitusi yang melindunginya," ujarnya.
Saadiah mengaku prihatin karena berbagai laporan dugaan perampasan tanah adat dan kriminalisasi terhadap masyarakat adat masih terus terjadi. Ia juga mempertanyakan sikap sejumlah kementerian yang dinilai belum menunjukkan langkah konkret dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
"Lalu kenapa kita terus berdiam? Kementerian HAM terus berdiam? Kementerian Hukum terus berdiam? Apakah Komisi XIII juga harus berdiam?" katanya.
Menurut Saadiah, dugaan kriminalisasi terhadap masyarakat adat bukan persoalan yang dapat dipandang sebelah mata. Negara, kata dia, memiliki tanggung jawab konstitusional untuk melindungi warga yang memperjuangkan hak atas tanah adatnya.
"Kalau memang sudah ada kriminalisasi terhadap masyarakat adat yang datang menyampaikan aspirasinya, maka Komisi XIII sebagai rumah rakyat harus merespons dengan cepat," pungkasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
EKONOMIHarga Emas Antam Turun Rp20 Ribu ke Rp2.545.000 Per Gram Jelang Akhir Pekan
Rozie Winata·32 menit yang lalu -
PERISTIWAKebakaran Hanguskan 9 Rumah di Komplek Griya Pesona Minimalis Medan Marelan
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
-
HUKUM DAN KRIMINALSolidaritas Ojol Desak Kapolri Usut Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
NEWSHensa Duga Jokowi Pamer Ijazah untuk Alihkan Isu Penyadapan Prabowo
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
POLITIKBantah Isu Munaslub Golkar, Ahmad Doli Tegaskan Hubungan Baik dengan Bahlil
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
EKONOMIChusnunia Chalim Dorong Penguatan Industri Bahan Baku Pakan Ternak Lokal
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
EKONOMIHarga Pangan Melonjak, Imas Aan Desak Kemendag Segera Lakukan Pengendalian
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
TRAVELPemprov Sumut Ajukan Megalitik Nias Selatan Jadi Warisan Dunia
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu -
NEWSAnggota DPR Siap Fasilitasi Hak Pekerja Korban Kecelakaan Kerja PT Daehyun
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan