Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Chusnunia Chalim Dorong Penguatan Industri Bahan Baku Pakan Ternak Lokal

64 Persen Biaya Peternakan Terserap untuk Pakan

Chusnunia Chalim mendorong penguatan industri bahan baku pakan ternak lokal untuk menekan impor dan biaya peternakan yang mencapai 64 persen.

Bagikan:
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim (Nunik) mendorong pemerintah memperkuat industri bahan baku pakan ternak dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor, Sabtu (7/11/2026). (foto: istimewa)
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim (Nunik) mendorong pemerintah memperkuat industri bahan baku pakan ternak dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor, Sabtu (7/11/2026). (foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim mendorong pemerintah memperkuat industri ternak dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap . Langkah tersebut dinilai mendesak di tengah kenaikan harga pakan yang semakin membebani biaya produksi dan keberlangsungan usaha peternak.

Perempuan yang akrab disapa Nunik itu mengatakan, kenaikan harga pakan harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk membenahi struktur industri pakan nasional. Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya memiliki industri pengolahan pakan berskala besar, tetapi juga harus mampu memenuhi kebutuhan bahan bakunya secara mandiri.

"Kami menerima laporan mengenai kenaikan harga pakan ternak yang dikeluhkan para peternak. Kondisi ini tentu menjadi beban tersendiri karena pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi peternakan. Ketika harga pakan terus meningkat, keuntungan peternak semakin tertekan. Karena itu, kenaikan harga ini harus menjadi momentum untuk memperkuat industri di dalam negeri," ujar Nunik, Sabtu (7/11/2026).

Besarnya pengaruh harga pakan terhadap keberlangsungan usaha peternakan tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam publikasi Statistik Perusahaan 2025, BPS mencatat total pengeluaran perusahaan peternakan unggas di Indonesia sepanjang 2025 mencapai Rp25,306 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 64,26 persen atau Rp16,26 triliun digunakan untuk kebutuhan pakan.

Menurut Nunik, angka tersebut menunjukkan bahwa pakan menjadi komponen paling dominan dalam struktur biaya operasional perusahaan . Karena itu, fluktuasi harga pakan berpotensi memberikan tekanan besar terhadap keberlangsungan industri peternakan.

"Artinya, hampir dua pertiga biaya operasional perusahaan peternakan unggas terserap untuk kebutuhan pakan. Ini menunjukkan betapa strategisnya persoalan harga pakan bagi keberlangsungan industri peternakan. Jika harga pakan terus meningkat, tekanan terhadap biaya produksi juga semakin besar," katanya.

Tekan Pasokan

Nunik menjelaskan, kebutuhan bahan baku pakan unggas nasional selama ini masih dipenuhi melalui kombinasi produksi dalam negeri dan impor. 

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, komposisi bahan baku pakan ayam pedaging terdiri atas 60 persen bahan baku lokal dan 40 persen impor. Sementara pada pakan ayam petelur, sekitar 63 persen berasal dari dalam negeri dan 37 persen masih bergantung pada impor.

Dalam formulasi pakan tersebut, jagung menjadi bahan baku terbesar dengan porsi sekitar 45 persen dan selama ini dipenuhi dari produksi domestik. Namun, bahan baku terbesar kedua, yakni atau soybean meal (SBM), masih sangat bergantung pada pasokan impor.

Porsi dalam formulasi pakan ayam pedaging mencapai 25 persen, sedangkan untuk ayam petelur sekitar 20 persen.

Kondisi tersebut, lanjut Nunik, membuat industri pakan nasional rentan terhadap gejolak harga komoditas global, perubahan nilai tukar rupiah, hingga gangguan rantai pasok internasional. Dampaknya tidak hanya dirasakan industri pakan, tetapi juga peternak yang harus menanggung kenaikan biaya produksi.

"Ketika harga bahan baku impor meningkat atau nilai tukar rupiah melemah, industri pakan ikut menanggung kenaikan biaya. Dampaknya kemudian dirasakan peternak. Karena itu, kita perlu membangun industri bahan baku pakan yang lebih kuat agar tidak terus-menerus rentan terhadap gejolak eksternal," jelas mantan Wakil Gubernur Lampung tersebut.

Untuk mengatasi persoalan itu, Nunik mendorong Kementerian Perindustrian mengambil peran lebih aktif dalam mengembangkan industri pengolahan bahan baku pakan di dalam negeri. Sejumlah langkah yang dapat dilakukan antara lain memperkuat investasi, mengembangkan teknologi pengolahan, mendorong riset bahan baku alternatif, serta meningkatkan kapasitas industri berbasis komoditas lokal.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara sektor industri dan pertanian. Menurutnya, peningkatan produksi jagung dan pengembangan komoditas potensial lainnya harus terintegrasi dengan kebutuhan industri pakan nasional.

Dengan demikian, petani lokal memiliki kepastian pasar, sementara industri pakan memperoleh jaminan pasokan bahan baku yang lebih berkelanjutan.

"Potensi bahan baku lokal harus terus dikembangkan. Kita perlu mendorong inovasi dan riset agar berbagai komoditas dalam negeri dapat diolah menjadi bahan baku pakan yang memenuhi standar nutrisi dan kualitas industri. Jangan sampai kita memiliki potensi sumber daya alam, tetapi industri pakan masih terlalu bergantung pada pasokan dari luar negeri," tuturnya.

Lebih jauh, Nunik mengingatkan bahwa persoalan kenaikan harga pakan tidak hanya menyangkut kepentingan industri, tetapi juga keberlangsungan peternak rakyat dan keterjangkauan pangan masyarakat. Pasalnya, kenaikan biaya pakan dapat mendorong peningkatan biaya produksi ayam dan telur yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi harga jual di tingkat konsumen.

"Penguatan industri bahan baku pakan dalam negeri harus menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kemandirian industri nasional," pungkasnya.

(LS/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru