Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Dosen MDP Palembang Kembangkan Website 'Pantau Api' Berbasis AI untuk Mitigasi Karhutla

Dosen MDP Palembang Kembangkan Website 'Pantau Api' Berbasis AI untuk Mitigasi Karhutla

A A

Nusantaraterkini.co, - Dosen Kampus Multi Data Palembang (MDP), M. Rizky Pribadi merintis penelitian selama satu tahun terakhir untuk menciptakan situs 'Pantau Api' berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) guna memantau titik api (hotspot) serta sebaran kabut asap di Sumatera Selatan.

Pengembangan inovasi ini dilatarbelakangi oleh keresahan pribadinya melihat bencana musiman yang terus berulang di , seperti kabut asap dan banjir.

Melalui situs pantauapi.my.id yang dapat diakses publik, platform ini mengolah data satelit secara real-time termasuk data dari NASA dan data publik lainnya menggunakan sistem coding serta generate AI.

“Tujuannya, dapat memantau prediksi kabut asap dari data satelit yang diolah dengan AI. Data ini bisa memprediksi potensi asap per jam terutama untuk Kota Palembang dan Kabupaten lain di ,” ujar Rizky, Minggu (11/10/2026).

Rizky memeragakan langsung pengoperasian dashboard Pantau Api. Dari pemantauan gambar peta , muncul dua titik merah baru tanda tingkat risiko tinggi di area Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). 

Ia menerangkan, arah angin dari wilayah tersebut dinilai dominan membawa polutan asap kebakaran menuju Kota Palembang.

“Ini titik sumber api yang ada di Sumsel. Di sini sumbernya (titik api) area ini Paling banyak terjadi karhutla ( dan lahan). Hotspot tingkat risiko tinggi dan anginnya mengarah ke Palembang,” terangnya sambil menunjuk layar PC.

Melalui data tersebut, warga dapat mengetahui estimasi waktu yang aman untuk beraktivitas di luar rumah saat terjadi kabut asap. Sejauh ini, ia baru membagikan data hasil olahan tersebut melalui media sosial.

Rizky menjelaskan pencegahan karhutla di lahan gambut sangat krusial agar tidak terjadi kebakaran berulang saat musim kemarau.

“Gambut kedalaman kurang dari 1 meter yang terbakar membutuhkan hingga 20 kilogram air agar sumber apinya hilang dan padam,” jelasnya.

Meskipun situs 'Pantau Api' sudah bisa dibuka secara umum, dirinya mengatakan jika pengolahan data ringkasan secara menyeluruh saat ini baru bisa dilakukan melalui PC miliknya. 

Hal ini disebabkan karena sistem membutuhkan spesifikasi komputer berkinerja tinggi serta seluruh pendanaan pengembangan sejauh ini masih menggunakan dana pribadi.

Ia berharap karya penelitiannya dari kampus tersebut mendapat bantuan hibah atau dukungan dari pemerintah dan stakeholder terkait.

“Semua dana sendiri, jadi tidak semua bisa terakses. Kalau memang ada dananya ada hibah, bisa dikembangkan untuk mencegah karhutla berulang dan bisa mitigasi bersama dari berbagai pihak,” ungkapnya.

Ia juga berharap, kedepannya platform ini dapat membantu semua pihak sebelum titik api kembali muncul.

“Ya harapannya, pantau api ini bisa membantu siapa pun, sebelum titik api datang lagi. Karena semuanya bisa dicegah dengan tindakan dan aksi,” ucap dia.

(Tia/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait