Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Kabut Asap Pekat Tak Surutkan Pembeli Pempek Tumpah di Pasar 16 Ilir

Kabut Asap Pekat Tak Surutkan Pembeli Pempek Tumpah di Pasar 16 Ilir

A A

Nusantaraterkini.co, – akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai melanda Kota Palembang sejak sekitar dua bulan terakhir. Namun, dalam beberapa hari terakhir, kondisi asap semakin pekat menyelimuti sejumlah wilayah kota.

Kondisi tersebut ternyata tidak menyurutkan aktivitas jual beli sejumlah pelaku UMKM di . Salah satunya pedagang pempek tumpah di Pasar 16 Ilir yang mengaku konsumennya tetap ramai membeli dagangan meski menebal.

Sejak awal kabut asap melanda, penjualan pempek memang mengalami fluktuasi. Namun, dalam beberapa hari terakhir, pembeli tetap ramai meski kondisi udara di sekitar pasar dipenuhi asap.

“Kadang sepi, kadang ramai. Tapi beberapa hari ini ramai, walaupun kabut asap tebal, nggak berpengaruh,” ujar Ratna salah satu pedagang pempek tumpah kepada Nusantaraterkini.co, Selasa (6/10/2026).

Hingga pukul 13.05 WIB, Rani menyebut sekitar 1.000 biji pempek telah terjual. Bahkan, saat kondisi ramai, penjualannya bisa mencapai 3.000 biji dalam sehari. Sementara ketika kondisi sepi, pempek yang terjual biasanya berada di kisaran 500 hingga 600 biji per hari.

“Alhamdulillah hari ini sudah laku lebih kurang 1.000 biji,” ungkapnya.

Terkait penanganan kabut asap, Rani mengatakan belum ada imbauan khusus dari pemerintah kepada pedagang. Ia hanya mengetahui adanya penertiban di bagian depan kawasan pasar.

“Tidak ada, cuma kemarin yang bagian depan sana saja ditertibkan,” terangnya.

Pembagian masker juga sempat dilakukan, tetapi menurut Rani hanya sekali. Ia mengaku tidak mengetahui pihak yang membagikan masker tersebut.

“Pembagian masker ada, tapi cuma sekali. Tidak tahu dari mana, mereka cuma bagi-bagi saja,” katanya.

Ia menjelaskan pempek yang dijualnya merupakan produk dari tempat produksi milik orang lain. Ia membawa stok ke lapak secara bertahap agar pempek yang dijual tetap baru.

Biasanya, ia mengambil sekitar 500 hingga 800 biji pempek terlebih dahulu. Jika stok mulai sedikit, ia kembali mengambil dari agen.

“Ini pakai ikan kakap, ngambilnya di 26 Ilir. Hari ini sudah dua kali ngambil. Yang pertama tadi sudah habis,” jelasnya.

Selain dijual langsung di Pasar 16 Ilir, pempek tersebut juga dapat dikirim ke luar kota, baik wilayah hingga pulau Jawa.

“Tadi pagi, baru mengirim pempek ke Baturaja dan kemarin juga habis ngirim ke Serang. Tadi juga pempek kapal selam diborong sama orang Lampung,” bebernya.

Untuk pengiriman ke luar kota, harga pempek tetap Rp1.000 per biji. Pembeli hanya dikenakan tambahan biaya ongkos kirim dan biaya vakum.

Warga Simpang Sungki, Kertapati ini mengaku jika dirinya telah berjualan di lokasi tersebut sekitar dua tahun.

“Sudah 2 tahunan disini, ini tempatnya sudah pas (strategis),” ucapnya.

Lapaknya buka mulai pukul 07.00 WIB hingga 18.00 WIB atau sampai magrib, dan ia pulang setelah bosnya datang.

Harga pempek tetap Rp1.000 per biji meski harga bahan pokok mengalami kenaikan. Kenaikan harga baru dilakukan saat Lebaran.

“Paling kalau mau Lebaran baru naik jadi empat biji Rp5.000, tapi cuma pas Lebaran saja,” lanjutnya.

Di lapaknya terdapat tujuh jenis pempek seribuan. Selain itu, tersedia pempek kapal selam tiga biji seharga Rp10.000 dan otak-otak seharga Rp1.000.

Sementara itu, Rani turut menanggapi pempek yang sempat viral karena disebut berbau. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terjadi pada seluruh pedagang.

Menurutnya, keluhan pembeli lebih banyak muncul di bagian depan karena ada pempek yang disebutnya sudah beberapa hari kemudian dibalut kembali sehingga terasa saat dimakan.

“Tapi memang banyak juga yang komplain di depan sana, karena pempek sudah berapa hari dibalut lagi, jadi pas orang makan berasa,” jelasnya.

Ia memastikan pempek yang dijualnya selalu baru. Karena itu, ia memilih mengambil stok sedikit demi sedikit dan kembali mengambil saat dagangan hampir habis.

“Kalau kami alhamdulillah baru terus. Makanya kami ambil dikit-dikit,” imbuhnya.

Jika pempek tidak habis terjual, stok tersebut biasanya dibekukan oleh bosnya untuk kemudian dijual kembali di rumah.

Ia juga meminta pembeli tidak menggeneralisasi seluruh pedagang karena persoalan yang terjadi pada satu penjual. 

Ia berharap agar pembeli dapat menyampaikan langsung keluhan kepada pedagang yang bersangkutan.

“Jadi tidak seluruh pedagang pempeknya dijual berulang, jangan matikan rezeki orang. Langsung ngomong ke orangnya, jangan diviralkan kayak gitu, jangan matikan dagangan orang,” tegas dia.

(Tia/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait