Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Danau Toba Curhat: Kok Airku Jadi Keruh? Pemerintah, Ayo Dong Bertindak!

Editor:  Feriansyah Nasution
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Air Danau Toba terlihat berubah warna menjadi kuning di area Sibea-bea, Harian Boho, Kabupaten Samosir, Minggu (20/7/2025). (Foto: JAS/Nusantaraterkini.co)

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., M.Si

Belakangan ini, Danau Toba—ikon pariwisata sekaligus sumber kehidupan masyarakat Sumatera Utara—seolah “curhat” lewat perubahan drastis warna airnya. Di beberapa titik di Kabupaten Samosir, terutama Desa Boho, Harian, dan Tanjung Bunga, air danau mendadak keruh dan berubah menjadi kuning kecoklatan selama lebih dari dua minggu. Kalau Danau Toba bisa bicara, mungkin ia bertanya, “Kok aku jadi begini, ya?”

Dari informasi lapangan, dugaan sementara adalah cuaca ekstrem dan ombak besar yang mengaduk endapan lumpur dasar danau. Tapi yang bikin miris: belum ada penelitian ilmiah resmi yang mengungkapkan secara pasti penyebabnya. Anehnya, yang nimbrung kasih komentar malah Kadis Pariwisata, sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup yang seharusnya jadi “dokter” lingkungan malah bungkam, tanpa tindakan nyata.

Baca Juga : DPR Ingatkan Tata Ruang dan Infrastruktur jadi Kunci Kurangi Banjir

Kenapa Warna Air Hanya Berubah di Beberapa Titik?

Perubahan warna air ini bukan terjadi sembarangan. Wilayah Boho, Harian, dan Tanjung Bunga punya dasar danau yang relatif dangkal dan kaya sedimen serta bahan organik. Ombak besar bikin lumpur dan bahan organik naik ke permukaan, membuat air keruh dan warnanya berubah. Ditambah, aktivitas manusia seperti pakan ternak ber-nutrien tinggi mempercepat ledakan alga (eutrofikasi) yang menurunkan kadar oksigen di air.

Bahaya yang Mengintai

Baca Juga : DPR Dukung Proyek Gentengnisasi Prabowo, Ingatkan Akuntabilitas dan Dampak ke UMKM

Keruhnya air Danau Toba bukan hanya soal estetika, tapi ancaman nyata bagi kesehatan dan lingkungan:

  • Penurunan kualitas air yang bisa mengandung bakteri berbahaya dan logam berat.
  • Kematian ikan dan gangguan ekosistem yang merugikan petani ikan.
  • Risiko penyakit kulit dan saluran pencernaan bagi masyarakat sekitar.
  • Menurunnya daya tarik wisata, yang berujung pada kerugian ekonomi lokal.

Pemerintah Dimana?

Sayangnya, selama fenomena ini terjadi, upaya serius dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Samosir sangat minim. Pemantauan rutin? Teknologi canggih? Penelitian ilmiah? Transparansi kepada publik? Hampir tak terdengar. Malah yang sering bersuara adalah Dinas Pariwisata, yang jelas bukan tugas utamanya menangani masalah kualitas lingkungan. Ini seperti dokter rumah sakit yang diam saat pasiennya butuh tindakan segera.

Desakan Mendesak

Masyarakat sekarang menunggu langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten Samosir, Dinas Lingkungan Hidup, dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Tindakan lambat tidak hanya mengancam kesehatan dan keselamatan masyarakat, tapi juga ekosistem Danau Toba dan reputasi pariwisata yang bergantung pada air yang bersih dan sehat.

Ini bukan sekadar masalah lingkungan biasa, tapi soal kehidupan umat manusia yang bergantung pada air Danau Toba. Pemerintah harus segera bertindak:

  • Segera selidiki penyebab pasti dan dampaknya.
  • Laporkan hasil temuan secara terbuka dan transparan.
  • Jaga dan pulihkan kualitas lingkungan danau.
  • Bangun kembali kepercayaan publik terhadap Samosir sebagai destinasi wisata sehat.

UNESCO dan Titik Balik

Fenomena ini bertepatan dengan kunjungan tim UNESCO yang menilai kelestarian Danau Toba sebagai situs warisan dunia. Jika dibiarkan, bisa berakibat fatal bagi status warisan dunia dan ekonomi budaya daerah.

Rekomendasi Langkah Konkret:

  1. Audit lingkungan terpadu bersama perguruan tinggi dan lembaga riset.
  2. Pasang sistem monitoring air real-time berbasis teknologi canggih.
  3. Tegakkan regulasi ketat terhadap aktivitas pertanian, limbah, dan industri.
  4. Transparansi penuh dan edukasi masyarakat sebagai pengawas lingkungan.
  5. Sinergi antar dinas, jangan sampai “saling lempar bola.”

Penutup
Danau Toba adalah warisan alam dan sumber kehidupan. Airnya yang kini keruh adalah alarm yang tak boleh diabaikan. Pemerintah, jangan cuma jadi penonton! Waktunya bertindak cepat demi kesehatan masyarakat, ekosistem yang lestari, dan masa depan pariwisata Samosir yang gemilang. Jika tidak, bukan hanya Danau Toba yang menangis, tapi seluruh masyarakat yang akan kehilangan harapan. (*)

Penulis adalah Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia / Penggiat Lingkungan