nusantaraterkini.co, SURABAYA - Ada cerita sedih yang dialami driver ojek online (ojol) di Surabaya. Dia adalah lah Galuh, driver ojol wanita penderita tuli.
Meski kondisinya yang tidak normal, Galuh tetap berusaha mencari uang sebagai driver ojol demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Namun, ada cerita menyedihkan yang kerap dialaminya, dirinya kerap kali ditolak (cancel orderan) dari calon penumpangnya. Diskriminasi yang dialaminya ini tak menyurutkan semangatnya sebagai driver ojol.
Baca Juga : Bejat! Kakek 74 Tahun Tega Perkosa Wanita Difabel hingga Hamil 7 Bulan
"Saya sering ditolak penumpang setelah mereka tahu saya tuli. Kan di aplikator tempat saya ngojek ada fitur yang menyebutkan tentang kondisi saya. Dari situ mereka (penumpang) sering cancel orderan. Alasannya takut terjadi apa-apa di jalan karena saya tuli," terang Galuh dikutip Kumparan, Rabu (1/5/24).
Meski demikian Galuh tak berputus asa, pekerjaan sebagai driver ojol tetap dilakoninya demi sang buah hati. Apalagi putra bungsunya merupakan penyandang autis.
"Cuma ngojek yang bisa saya lakukan, karena saya tidak mempunyai modal lain untuk bekerja," imbuh perempuan 41 tahun ini.
Baca Juga : 7 Jenis Buah yang Sebaiknya Dihindari Penderita Penyakit Jantung
Selain kerap mendapatkan perlakuan diskriminasi dari penumpang, penghasilan yang tak tentu setiap harinya juga harus rela diterima Galuh. Perempuan berhijab ini mengaku penghasilan paling banyak didapatkan setelah seharian ngojek sebesar Rp 200 ribu.
Namun tak setiap hari Galuh bisa beruntung mendapatkan Rp 200 ribu. Bahkan Galuh sering mendapatkan penghasilan minim atau malah tak dapat uang sama sekali saat ngojek.
"Saya ngojek dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Nggak setiap hari (dapat Rp 200 ribu), kalau lagi ramai orderan ya segitu. Tapi kalau lagi sepi ya cuma Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, malah pernah nggak dapat uang sama sekali," ungkapnya.
Baca Juga : HIV/AIDS di Medan Tembus 9.883 Kasus, Lelaki Suka Lelaki Faktor Resiko Tertinggi
Dari penghasilannya sebagai driver ojol digunakan Galuh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari biaya day care untuk putra bungsunya hingga biaya untuk makan.
"Anak bungsu saya titipkan ke day care setelah pulang sekolah dari SLB. Alhamdulillah saya dapat keringanan, setiap kali titip (anak bungsu) saya cuma bayar Rp 25 ribu," terangnya.
Tak hanya keringanan biaya day care, Galuh juga mendapatkan hal serupa untuk biaya sekolah putri sulungnya di salah satu SMP di Surabaya. Galuh mengaku keringanan biaya yang didapat buah hatinya tak terlepas dari kondisi mereka sebagai anak yatim.
"Alhamdulillah Allah baik banget sama saya, meski saya harus kehilangan suami, kehilangan pendengaran, tapi Allah kasih kebaikan ke anak-anak saya," tuturnya penuh haru.
(Dra/nusantaraterkini.co)
