Anggota DPR Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan Atasi Rabies di Bali
Anggota DPR Firman Soebagyo mendesak pemerintah pusat memperkuat penanganan rabies di Bali melalui vaksinasi, sterilisasi, dan pengendalian anjing.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo mendesak pemerintah pusat segera mengambil langkah darurat untuk menangani penyebaran rabies di Bali. Desakan ini disampaikan usai menerima laporan dari Dinas Pertanian Bali dan Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar terkait maraknya kasus gigitan anjing liar.
Laporan tersebut diterima Firman saat melakukan kunjungan kerja reses di Denpasar, Bali, Sabtu (19/9/2026). Ia menyebut situasi rabies di Pulau Dewata sudah berada pada kondisi yang mengkhawatirkan.
"Saya terkejut. Laporan Kadis Pertanian jelas. Populasi anjing liar hampir tidak terkendali. Korban manusia sudah berjatuhan," kata Firman kepada wartawan, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Firman, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 66.760 kasus gigitan anjing di Bali dengan 16 orang meninggal dunia. Sementara itu, di Kota Denpasar hingga September 2026 telah ditemukan delapan kasus positif rabies.
Ia juga menyoroti cakupan vaksinasi yang disebut baru mencapai sekitar 46 persen.
"Ini darurat, bukan biasa," tegasnya.
Firman menilai persoalan tersebut tidak hanya menyangkut kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap sektor pariwisata Bali yang menjadi salah satu destinasi utama wisatawan internasional.
"Bali adalah pariwisata dunia, etalase Indonesia. Bayangkan jika ada turis asing yang digigit anjing rabies dan meninggal di Bali. Itu akan mencoreng nama Indonesia di seluruh dunia," ujarnya.
Ia mengingatkan, apabila persoalan rabies tidak segera ditangani secara serius, dampaknya dapat meluas terhadap citra pariwisata Indonesia.
"Travel warning bisa saja keluar. Pariwisata kita yang baru pulih bisa hancur lagi. Pemerintah pusat tidak boleh diam," katanya.
Politikus Partai Golkar tersebut menyebut salah satu persoalan utama penanganan rabies di Bali adalah keterbatasan anggaran, fasilitas, dan sumber daya manusia di tingkat daerah.
Menurut dia, jumlah anjing liar di Bali yang disebut mencapai sekitar 700 ribu ekor membutuhkan penanganan yang terintegrasi dan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah daerah.
Firman juga menyoroti belum optimalnya program penampungan anjing liar yang sebelumnya telah diinstruksikan pemerintah daerah. Program tersebut, kata dia, masih menghadapi kendala anggaran serta penolakan dari kelompok tertentu.
Karena itu, Firman mendesak pemerintah pusat mengambil langkah khusus untuk mempercepat penanganan rabies di Bali.
Firman mengusulkan sedikitnya tiga langkah yang perlu segera dilakukan pemerintah pusat. Pertama, pemerintah diminta mempertimbangkan penetapan Bali sebagai daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies secara terbatas sekaligus menyediakan anggaran khusus untuk penanganannya.
"Jangan bebani APBD Bali saja. Pemerintah pusat harus hadir," ujarnya.
Kedua, ia meminta Kementerian Pertanian dan Kementerian Kesehatan memperkuat ketersediaan vaksin, termasuk vaksin anti-rabies (VAR) bagi manusia dan vaksin rabies untuk hewan. Firman juga mengusulkan penambahan sekitar 20 dokter hewan untuk mendukung operasi sterilisasi massal di sembilan kabupaten/kota di Bali.
Ketiga, pemerintah pusat diminta menyusun kebijakan khusus mengenai pengendalian populasi anjing berbasis desa adat.
"Jangan pakai cara Jakarta untuk mengatasi masalah Bali. Libatkan Pecalang dan Desa Adat. Beri kewenangan awig-awig untuk mengatur pemilik anjing yang melepas liar. Kalau perlu, denda adat," kata Firman.
Di sisi lain, Firman menolak pendekatan eliminasi anjing liar dengan cara meracun. Menurutnya, metode tersebut tidak menyelesaikan persoalan secara berkelanjutan dan dapat menimbulkan persoalan terkait kesejahteraan hewan.
"Jangan dibunuh, tapi dikendalikan. Sterilisasi, vaksinasi, dan kandang komunal. Itu solusi yang diakui WHO," ujarnya.
Firman memastikan persoalan rabies di Bali akan dibawa ke rapat Komisi IV DPR RI bersama pemerintah.
"Saya akan bawa masalah ini langsung ke Rapat Komisi IV dengan Menteri Pertanian dan Menteri Kesehatan minggu depan. Bali tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri," katanya.
"Kalau Bali darurat rabies, itu darurat nasional," pungkas Firman.
(LS/Nusantaraterkini.co
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWSTNI Raih Empat Rekor MURI Melalui Kegiatan Bersama Masyarakat
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
NEWSMagangHub Batch 2 Dimulai Hari Ini, Peserta Diminta Bersiap
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
E-SportKlasemen MPL ID S18: TLID Kokoh di Puncak, EVOS Beri Kejutan, Peluang RRQ Menipis
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
NEWSWorld Cleanup Day 2026, Wali Kota Binjai Ajak Warga Jadikan Gotong Royong Budaya
hendra·9 jam yang lalu -
E-SportKejar Peningkatan Prestasi Nasional, ESI Sumut Gelar Kejurprov Esport 2026
Herman Saleh Harahap·9 jam yang lalu -
KRIMINALVideo Porno “A Day in My Life” Viral, Dua Pria Gay di Bogor Diamankan Polisi
hendra·9 jam yang lalu -
E-SportJungler Magang Rendyyy Bersinar Gantikan Alberttt, EVOS Tumbangkan TLID 2-1
Herman Saleh Harahap·9 jam yang lalu -
NEWSSekda Lampung Tengah Welly Adiwantra Ditahan, Terseret Kasus 382 Honorer di Metro
hendra·10 jam yang lalu -
SUMSELTerbukti Setubuhi Anak di Bawah Umur, Pemuda 21 Tahun Diringkus Satreskrim Polres OKU
hendra·11 jam yang lalu -
KESEHATANKasus Influenza A Meningkat di Indonesia, Kenali Gejala, Cara Penularan dan Pencegahannya
hendra·12 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan