Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah  Sangat Dipengaruhi Nada Pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell

Editor:  Team
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada akhir perdagangan Selasa (22/7/2025) nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun situasi ini diperkirakan akan berbalik arah pada perdagangan Rabu (23/7).

Di pasar spot, mata uang Garuda menguat tipis Rp 4 atau 0,02% ke Rp 16.320 per dolar AS. Hal yang sama juga terjadi pada kurs Jisdor hari ini yang menguat 0,14% ke level Rp 16.307 per dolar AS.

Baca Juga : Menjelang Rilis PDB, Rupiah Terkoreksi ke Rp16.807 per Dolar AS

Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menjelaskan, proyeksi nilai tukar rupiah hari ini akan sangat dipengaruhi oleh nada pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell. 

Pasar akan menganalisis setiap kata untuk mendapatkan petunjuk tentang arah kebijakan moneter AS di masa mendatang.

Jika Powell terdengar optimistis tentang ekonomi AS dan tidak memberikan sinyal pelonggaran moneter, atau bahkan mengisyaratkan bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama, ini dapat mendukung penguatan dolar AS. 

Baca Juga : Rupiah Menguat Tipis di Awal Februari, Bayang-bayang Dolar Masih Membatasi

Sebaliknya, jika Ia menyoroti risiko-risiko ekonomi atau memberikan sinyal yang lebih longgar, dolar AS bisa melemah. Ini akan menguntungkan rupiah.

Selain itu, perkembangan terbaru dari perundingan perdagangan AS dengan negara-negara lain juga sangat krusial. 

Setiap berita positif mengenai kemajuan perundingan atau indikasi bahwa AS akan bersikap lebih akomodatif dalam batas waktu 1 Agustus dapat meningkatkan selera risiko investor. 

Sehingga mendorong arus modal ke pasar negara berkembang seperti Indonesia dan memperkuat rupiah. 

Sebaliknya, jika ada laporan yang menunjukkan kebuntuan atau eskalasi ketegangan perdagangan, sentimen risk-off akan mendominasi, menyebabkan investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS, dan menekan rupiah. 

"Mengingat pasar belum memperkirakan langkah pemangkasan suku bunga bulan ini, setiap sinyal yang bertentangan dengan ekspektasi ini dapat memicu volatilitas," ujar Sutopo.

Sementara itu terkait sentimen internal, pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menyebut faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah Bank Indonesia cenderung lebih hati-hati membuat perkiraan pertumbuhan ekonomi 2026 pada kisaran 4,70%-5,50%. Perlambatan ekonomi dunia, khususnya di negara mitra dagang utama seperti AS dan China, berdampak pada kinerja ekspor nasional. 

Pemerintah juga perlu mempertimbangkan mengambil langkah kebijakan yang bersifat countercyclical untuk meredam dampak fluktuasi ekonomi.

Mendorong belanja pemerintah lebih produktif dan memberikan stimulus yang tepat sasaran baik bagi kalangan miskin, rentan terutama untuk kelas menengah.

Sutopo memproyeksikan rupiah besok akan berada direntang Rp 16.300 – Rp 16.400. Sedangkan Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan ditutup melemah direntang Rp 16.310 – Rp 16.360.

(wiwin/nusantaraterkini.co)