Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Analis Pasar: Di Awal 2025 Harga Bitcoin Diramalkan Bisa Menembus US$ 140.000 

Editor:  Team
Reporter: wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
harga Bitcoin di kuartal I 2025 diproyeksikan berada di rentang US$ 120.000 hingga US$ 140.000, dengan asumsi tidak ada gangguan besar dari regulasi atau makroekonomi.(sumber foto: reuters)

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Analis pasar Fyqieh menilai tahun 2025 bisa menjadi tahun yang besar bagi mata uang kripto, terutama saat Donald Trump kembali ke Gedung Putih.

Selama kampanyenya, Trump mempromosikan dirinya sebagai 'presiden kripto', yang mendapatkan dukungan dari banyak orang di komunitas kripto.

BACA: Harga Bitcoin CS Terjun Bebas Usai Ketua The Fed Jerome Powell Terjatuh ke Level US$ 96.330

Baca Juga : Pakar Rusia Sebut Revolusi Digital Ubah Lanskap Energi Global

Untuk awal tahun 2025, Bitcoin dinilai juga akan mengalami dengan baik. Pasar yakin bahwa kebijakan Trump yang pro-kripto dapat membantu mendorong harga lebih tinggi.

Salah satu katalis utama yang bisa mendongkrak harga Bitcoin cs adalah peningkatan arus masuk modal ke ETF Bitcoin spot di AS.

BACA: Harga Bitcoin Catat Rekor Tertinggi Baru Menembus angka US$ 107.000 Sekitar Rp1,7 Miliar

Baca Juga : Harga Bitcoin Cetak Rekor Baru di Atas US$106,000 Setelah Presiden Terpilih Donald Trump Nyatakan Rencana Pembentukan Cadangan Strategis

Sebab, ETF Bitcoin memberikan akses mudah bagi investor institusional dan ritel untuk berinvestasi di Bitcoin tanpa perlu memahami teknis penyimpanan atau risiko keamanan.

"Dengan meningkatnya permintaan ETF, harga Bitcoin dapat terdorong karena likuiditas yang lebih besar dan eksposur institusi terhadap aset ini," sebutnya.

Katallis selanjutnya adalah stimulus ekonomi yang diumumkan oleh beberapa negara, terutama AS, akan menciptakan likuiditas baru yang signifikan di pasar keuangan. 

Baca Juga : Hong Kong Bersiap Terapkan Pajak Kripto Global 2028, Adopsi Standar OECD

"Relevansi untuk kripto, sebagian dari likuiditas itu umumnya mengalir ke aset spekulatif, termasuk Bitcoin dan kripto lainnya, karena investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi," terangnya.

Fyqieh mencontohkan, ketika pandemi COVID-19 terjadi pada 2020 stimulus besar-besaran oleh pemerintah AS mendorong kenaikan harga Bitcoin hingga mencapai ATH baru. Likuiditas tambahan memungkinkan lebih banyak arus modal masuk ke pasar kripto.

Katalis lainnya dari The Fed yang telah memberikan indikasi kemungkinan penurunan suku bunga di masa depan.

Baca Juga : Jaringan Restoran AS Steak n Shake Borong Bitcoin Senilai Rp150 Miliar

Meski bersikap lebih hawkish, tetapi pemangkasan suku bunga akan tetap ada.

Meski didukung sejumlah katalis, Fyqieh menyarankan investor tetap berhati-hati lantaran pasar kripto sering kali rentan terhadap volatilitas.

 Hal itu juga dapat mengakibatkan koreksi tajam setelah kegembiraan awal atas kepresidenan Trump memudar.

Baca Juga : Lawan Sabotase Energi: Havana Kecam Praktik Premanisme Global Amerika Serikat

"Dengan mempertimbangkan siklus pasar, adopsi yang terus meningkat, dan efek dari katalis yang disebutkan maka target harga Bitcoin di kuartal I 2025 diproyeksikan berada di rentang US$ 120.000 hingga US$ 140.000, dengan asumsi tidak ada gangguan besar dari regulasi atau makroekonomi," tutupnya.